IDDSI Level 2: Minuman Kental Tipis (Mildly Thick) — Panduan Lengkap untuk Pasien Disfagia di Indonesia

Dalam tata laksana disfagia modern, modifikasi viskositas cairan adalah salah satu intervensi paling kritis dan paling sering dilakukan. IDDSI Level 2 — Kental Sedang (Mildly Thick) adalah tingkat modifikasi cairan yang paling umum diresepkan untuk pasien disfagia orang dewasa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Tingkat ini berada di persimpangan antara minuman yang masih bisa diminum dengan nyaman dari cangkir dan minuman yang sudah memberikan perlindungan bermakna bagi pasien dengan keterlambatan refleks menelan.

Standar IDDSI (International Dysphagia Diet Standardisation Initiative 2019) mendefinisikan Level 2 secara kuantitatif melalui uji aliran 10 detik, menjadikannya dapat diuji secara objektif — bukan hanya berdasarkan perkiraan visual. Panduan ini menjelaskan secara menyeluruh definisi, karakteristik, cara pengujian, penggunaan klinis, dan penerapan praktis Level 2 dalam konteks Indonesia.


Posisi Level 2 dalam Sistem IDDSI

Level Nama Indonesia Nama Inggris Hasil Uji Aliran 10 Detik Keterangan
0 Minuman Cair Thin < 1 mL tersisa Air, teh, kopi biasa
1 Kental Tipis Slightly Thick 1–4 mL tersisa Terutama pediatrik
2 Kental Sedang Mildly Thick 4–8 mL tersisa Paling umum untuk dewasa
3 Kental Moderat Moderately Thick > 8 mL / tidak bisa diminum dari cangkir Disfagia sedang-berat
4 Sangat Kental Extremely Thick Tidak mengalir, bertahan di sendok Disfagia berat

Level 2 ditandai dengan 4–8 mL sisa dalam spuit 10 mL setelah 10 detik. Kisaran ini cukup lebar, yang berarti ada variasi dalam Level 2 sendiri: minuman mendekati batas bawah (4 mL sisa) akan terasa lebih cair, sementara yang mendekati batas atas (8 mL sisa) akan terasa lebih kental. Klinisi perlu mengetahui target yang tepat untuk setiap pasien.


Karakteristik Fisik dan Visual Level 2

Tampilan

Minuman Level 2 memiliki penampakan yang jelas berbeda dari air biasa namun masih terlihat sebagai cairan, bukan makanan setengah padat:

Perilaku Aliran

Analogi Konsistensi di Indonesia

Untuk mempermudah pemahaman keluarga dan caregiver, perbandingan berikut berguna:


Uji Aliran IDDSI untuk Level 2

Persiapan Alat

  1. Spuit slip-tip 10 mL standar — Tersedia di apotek (Kimia Farma, K-24, Guardian), klinik, puskesmas. Ukuran internal harus tepat: 61,5 mm panjang dari 0 mL ke 10 mL.
  2. Timer 10 detik — Gunakan stopwatch di ponsel.
  3. Wadah penampung — Cangkir atau mangkuk bersih.
  4. Minuman pada suhu konsumsi — Jangan menguji minuman yang baru keluar dari kulkas.

Prosedur Standar

  1. Siapkan minuman pada suhu konsumsi normal (suhu ruang atau hangat sesuai preferensi pasien).
  2. Isi spuit tepat 10 mL — tidak lebih, tidak kurang.
  3. Pegang spuit vertikal, lubang ke bawah, di atas wadah penampung.
  4. Lepas tekanan pada plunger (jangan dorong) dan mulai timer bersamaan.
  5. Tunggu tepat 10 detik.
  6. Baca sisa cairan dalam spuit.

Interpretasi

Sisa Cairan Tingkat IDDSI
< 1 mL Level 0 — Terlalu cair
1–4 mL Level 1 — Agak terlalu cair
4–8 mL Level 2 ✅
> 8 mL Level 3 atau lebih kental

Tips Uji yang Akurat


Indikasi Klinis Level 2

Level 2 adalah tingkat modifikasi cairan yang paling sering diresepkan dalam praktik disfagia orang dewasa. Kondisi klinis yang sering memerlukan Level 2:

1. Disfagia Pascastroke (Paling Umum)

Stroke adalah penyebab disfagia orofaring paling umum pada orang dewasa. Diperkirakan 50–65% pasien stroke akut mengalami gangguan menelan pada minggu pertama. Mayoritas pasien dengan disfagia sedang pascastroke memerlukan Level 2 pada fase rehabilitasi awal.

Mekanismenya: kerusakan neurologis pascastroke menyebabkan penundaan refleks menelan faring — waktu antara bolus cairan mencapai faring dan dimulainya gerakan menelan menjadi lebih panjang dari normal. Cairan encer (Level 0) dapat “jatuh” ke laring sebelum refleks menelan dimulai, menyebabkan aspirasi. Level 2 memperlambat aliran cairan cukup untuk memberikan waktu bagi refleks yang tertunda.

2. Penyakit Parkinson

Pada penyakit Parkinson, kekakuan dan bradykinesia memengaruhi otot-otot menelan, menyebabkan:

Level 2 sering diresepkan pada Parkinson sedang hingga lanjut. Namun, penting diperhatikan bahwa disfagia pada Parkinson cenderung progresif — kebutuhan pasien akan berubah seiring waktu dan perlu evaluasi ulang secara berkala.

3. Kanker Kepala dan Leher

Pasien pasca-radioterapi atau pascaoperasi kepala-leher sering mengalami disfagia akibat:

Level 2 dapat diresepkan dalam fase pemulihan awal, dengan target untuk kembali ke Level 0 seiring penyembuhan.

4. Demensia Sedang-Lanjut

Pada demensia (Alzheimer, demensia vaskular, Lewy body dementia), gangguan kognitif dapat memengaruhi koordinasi menelan. Pasien mungkin melupakan urutan gerakan menelan atau mengalami apraksia menelan. Level 2 memberikan waktu lebih bagi sistem menelan yang lamban untuk merespons.

5. ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis)

ALS menyebabkan kelemahan progresif otot-otot menelan. Level 2 sering diperlukan pada tahap moderat penyakit, kemudian ditingkatkan ke Level 3 atau 4 seiring progresi.

6. Presbifagia (Disfagia Terkait Usia)

Proses penuaan normal memengaruhi fungsi menelan: kekuatan otot menelan berkurang, refleks menjadi lebih lambat. Pada lansia dengan kondisi multimorbid, Level 2 dapat memberikan keamanan tambahan saat minum.


Cara Menyiapkan Minuman Level 2 di Indonesia

Bahan Pengental yang Tersedia

Pengental Komersial (Direkomendasikan)

Produk Bahan Aktif Ketersediaan di Indonesia Kelebihan
Resource ThickenUp (Nestlé) Xanthan gum RS swasta, apotek besar, online Stabil, tidak memengaruhi rasa, tidak berubah setelah waktu
Nutilis Powder (Nutricia) Pati modifikasi RS swasta, klinik rehabilitasi, online Tersedia dalam berbagai ukuran
Thick & Easy (Hormel) Xanthan gum Import, online Opsi untuk keluarga yang membutuhkan

Pengental Lokal (Alternatif)

Bahan Kelebihan Kekurangan
Tepung maizena (corn starch) Murah, sangat mudah didapat Viskositas tidak stabil, berubah setelah waktu, memengaruhi rasa
Tepung tapioka Murah, rasa netral Tidak stabil, perlu dimasak untuk konsistensi baik
Tepung beras (rice flour) halus Mudah didapat, halal Perlu dimasak dahulu, rasa berubah
Agar-agar bubuk (jika digunakan dengan hati-hati) Sangat murah Membentuk gel padat, TIDAK cocok untuk cairan — hanya untuk Level 3 ke atas

Penting: Agar-agar, gelatin, dan bahan pembentuk gel TIDAK cocok untuk memodifikasi minuman Level 2 karena akan menghasilkan produk yang terlalu padat atau tidak merata. Gunakan hanya pengental yang larut dengan baik.

Panduan Dosis Perkiraan untuk Level 2

Peringatan: Dosis ini adalah estimasi. Selalu verifikasi dengan uji aliran spuit sebelum memberikan ke pasien.

Minuman (200 mL) Estimasi untuk Level 2 (Pengental Xanthan Gum) Estimasi untuk Level 2 (Tepung Maizena)
Air putih suhu ruang 1,5–2,0 g 3–4 g (diaduk panas)
Teh tawar 1,5–2,0 g 3–4 g
Jus jeruk tanpa ampas 1,0–1,5 g 2–3 g
Susu sapi cair 1,0–1,5 g 2–3 g
Air kelapa 1,5–2,0 g 3–4 g
Jus mangga disaring halus 0,5–1,0 g (sudah agak kental) 1–2 g

Langkah-langkah Persiapan

Untuk pengental xanthan gum:

  1. Ukur cairan (200 mL) dan tuang ke gelas.
  2. Tambahkan pengental sesuai estimasi.
  3. Aduk cepat dengan garpu atau whisk kecil selama 15–20 detik.
  4. Tunggu 1 menit hingga pengental larut sempurna.
  5. Lakukan uji aliran.
  6. Sesuaikan (tambah pengental jika < 4 mL sisa, kurangi jika > 8 mL sisa).
  7. Catat dosis yang tepat untuk penggunaan berikutnya.

Untuk tepung maizena:

  1. Campurkan tepung maizena dengan 2 sdm air dingin — aduk hingga larut.
  2. Tambahkan campuran ini ke dalam cairan yang sudah dipanaskan (jangan langsung tambahkan tepung ke air panas — akan menggumpal).
  3. Aduk terus sambil dipanaskan ringan (tidak perlu mendidih) hingga mengental.
  4. Dinginkan ke suhu konsumsi.
  5. Lakukan uji aliran — PENTING karena tepung maizena terus mengental saat didinginkan.

Contoh Menu Minuman Level 2 Harian (Bahan Lokal Indonesia)

Senin

Selasa

Target Cairan Harian

Pasien Level 2 harus mencapai minimal 1.800–2.000 mL cairan per hari. Dengan porsi 200 mL per sajian, dibutuhkan 9–10 sajian per hari. Ini berarti minuman harus ditawarkan setiap 1,5–2 jam dari pagi hingga malam.


Minuman Indonesia yang Alami Mendekati Level 2

Beberapa minuman lokal Indonesia memiliki viskositas alami yang mendekati Level 2. Ini adalah titik awal untuk pengujian — selalu verifikasi dengan uji aliran karena konsistensi alami bervariasi.

Minuman Estimasi Level Alami Catatan
Jus mangga harum manis disaring halus Mendekati Level 2 Tergantung kematangan buah
Jus alpukat encer (1:3 dengan air) Mendekati Level 2–3 Sangat bervariasi
Susu kedelai (soy milk) kental Bisa Level 2 Perlu uji, tergantung merek
Santan encer (1 bagian santan : 3 bagian air) Mendekati Level 2 Kandungan lemak tinggi, konsultasikan ahli gizi
Cendol (cincau) cair (bagian cairnya saja) Mendekati Level 2 Pastikan tanpa potongan padat

Catatan penting: Minuman dengan partikel, ampas, serat, atau potongan kecil TIDAK aman untuk pasien disfagia meski cairannya sesuai Level 2. Semua minuman harus tersaring halus sebelum diberikan.


Pemantauan dan Evaluasi

Tanda-tanda Level 2 Sudah Tidak Cukup Aman

Hubungi terapis wicara atau dokter segera jika:

Tanda-tanda Level 2 Mungkin Sudah Terlalu Kental

Jadwal Evaluasi Ulang

Kondisi Frekuensi Evaluasi Ulang
Disfagia pascastroke akut (minggu 1–4) Setiap 1–2 minggu
Disfagia pascastroke subakut (bulan 1–6) Setiap 4–6 minggu
Parkinson atau kondisi progresif Setiap 3 bulan
Demensia Setiap 3–6 bulan (lebih sering jika ada perubahan status)
Kanker kepala-leher pascaterapi Sesuai jadwal onkologi, biasanya 4–8 minggu

Edukasi Keluarga dan Caregiver

Keberhasilan manajemen Level 2 di rumah sangat bergantung pada pemahaman dan keterampilan keluarga. Poin edukasi kritis:

Hal yang Harus Dilakukan

  1. Selalu verifikasi kekentalan dengan uji aliran sebelum memberikan ke pasien
  2. Dokumentasikan dosis pengental yang tepat untuk setiap jenis minuman dalam buku catatan
  3. Tawarkan minuman secara teratur setiap 1,5–2 jam, jangan tunggu pasien merasa sangat haus
  4. Variasikan jenis minuman untuk mencegah bosan dan meningkatkan penerimaan
  5. Sediakan minuman yang hangat jika pasien lebih menyukai — suhu yang nyaman meningkatkan asupan

Hal yang Harus Dihindari

  1. Jangan pernah memodifikasi tingkat kekentalan tanpa konsultasi dengan SLP atau dokter
  2. Jangan memberikan minuman Level 0 secara diam-diam karena pasien meminta (risiko aspirasi)
  3. Jangan menyiapkan minuman jauh sebelumnya jika menggunakan pengental berbasis pati
  4. Jangan mengabaikan tanda-tanda tersedak atau aspirasi
  5. Jangan berasumsi tingkat IDDSI yang sama berlaku untuk semua minuman — jus lebih kental dari air, sehingga dosis pengental berbeda

Pertimbangan Biaya di Indonesia

Pengeluaran untuk pengental cairan adalah beban tambahan bagi keluarga pasien disfagia di Indonesia. Pertimbangan praktis:

Jenis Pengental Harga Perkiraan Durasi (1 pasien/hari 1.800 mL)
Resource ThickenUp 227 g Rp 200.000–300.000 ~3–4 minggu
Nutilis Powder 300 g Rp 250.000–350.000 ~3–4 minggu
Tepung maizena 500 g Rp 10.000–15.000 ~1–2 minggu
Tepung tapioka 500 g Rp 8.000–12.000 ~1–2 minggu

Untuk keluarga dengan keterbatasan ekonomi, tepung maizena atau tapioka adalah pilihan yang layak dengan pemantauan lebih ketat menggunakan uji aliran. Bicarakan dengan ahli gizi di puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan panduan yang disesuaikan.


Referensi Klinis

  1. IDDSI Framework 2019 — International Dysphagia Diet Standardisation Initiative. Complete IDDSI Framework. https://iddsi.org/framework/ (diakses 2026)
  2. Cichero JAY et al. (2017) — Development of International Terminology and Definitions for Texture-Modified Foods and Thickened Fluids Used in Dysphagia Management. Dysphagia, 32(2), 293–314.
  3. Steele CM et al. (2015) — The Influence of Food Texture and Liquid Consistency Modification on Swallowing Physiology and Function: A Systematic Review. Dysphagia, 30(2), 119–207.
  4. Kementerian Kesehatan RI (2023) — Pedoman Tatalaksana Disfagia. Jakarta: Kemenkes RI.
  5. Martino R et al. (2005) — Dysphagia After Stroke: Incidence, Diagnosis, and Pulmonary Complications. Stroke, 36(12), 2756–2763.
  6. Logemann JA (1998)Evaluation and Treatment of Swallowing Disorders (2nd ed.). Austin: Pro-Ed.
  7. Ashford J et al. (2009) — Evidence-Based Systematic Review: Oropharyngeal Dysphagia Behavioral Treatments. Journal of Rehabilitation Research and Development, 46(2), 175–194.
  8. Ekberg O et al. (2002) — Social and Psychological Burden of Dysphagia: Its Impact on Diagnosis and Treatment. Dysphagia, 17(2), 139–146.

Ringkasan

IDDSI Level 2 — Kental Sedang adalah tingkat modifikasi cairan yang paling sering digunakan dalam tata laksana disfagia orang dewasa di seluruh dunia. Ditandai dengan sisa 4–8 mL dalam uji aliran spuit 10 mL, Level 2 memberikan keseimbangan antara keamanan menelan dan kualitas konsumsi minuman. Di Indonesia, penggunaannya paling umum pada pasien pascastroke, penyakit Parkinson, dan kondisi neurologis lain yang memengaruhi koordinasi menelan.

Kunci keberhasilan: verifikasi kekentalan secara konsisten, pemantauan asupan cairan yang cermat, edukasi keluarga yang menyeluruh, dan evaluasi ulang berkala oleh tim multidisiplin (SLP, dokter, ahli gizi).


Artikel ini ditulis oleh tim editorial CompanyForge AI. Lisensi: CC BY 4.0.