Dysphagia Knowledge Hub — 吞嚥困難知識庫

Disfagia Pasca COVID-19 dan Long COVID — Panduan Klinis dan Pemulihan di Indonesia

TL;DR: Kesulitan menelan (disfagia) dialami oleh 40-50% pasien COVID-19 kritis di Indonesia dan bisa berlanjut selama berbulan-bulan pada Long COVID. Pemulihan memerlukan latihan khusus, penyesuaian tekstur makanan, dan perubahan postur makan. Artikel ini menyediakan panduan berbasis bukti untuk pasien, keluarga, dan perawat.

Mengapa COVID-19 Menyebabkan Kesulitan Menelan?

Virus SARS-CoV-2 merusak berbagai sistem organ tubuh, termasuk saraf-saraf yang mengontrol proses menelan. Kesulitan menelan pasca COVID-19 terjadi melalui beberapa mekanisme:

Kerusakan Saraf Kranial

Saraf-saraf utama yang mengontrol proses menelan adalah:

COVID-19 menyebabkan peradangan pada saraf-saraf ini, yang mengakibatkan kelemahan atau kurangnya koordinasi dalam proses menelan.

Kelemahan Otot Umum (Myopathy)

Pasien COVID-19 kritis yang dirawat di ICU mengalami kelemahan otot hebat, termasuk otot-otot yang terlibat dalam menelan. Studi di RSCM dan rumah sakit besar Indonesia menunjukkan bahwa pasien yang membutuhkan ventilasi mekanis lebih dari 3 minggu mengalami kelemahan otot yang signifikan.

Kerusakan Paru-Paru Berkelanjutan

Kerusakan paru-paru dari infeksi COVID-19 mengganggu pernapasan normal. Semua pasien COVID-19 yang memerlukan terapi oksigen mengalami gejala disfagia, dibandingkan dengan pasien yang tidak memerlukan oksigen.

Inflamasi Lanjutan pada Long COVID

Long COVID adalah kondisi berkelanjutan setelah infeksi akut dengan gejala yang bertahan atau muncul kembali selama berbulan-bulan. Pasien dengan Long COVID melaporkan kesulitan menelan yang menetap meskipun infeksi awal telah sembuh.

Prevalensi Disfagia Pasca COVID-19 di Indonesia

Studi 2024 menunjukkan 40,5% responden Indonesia memiliki skor EAT-10 ≥3 (menunjukkan disfagia), dengan skor rata-rata 7,8 — tertinggi dibandingkan responden dari Brazil, Inggris, dan China. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mengalami beban disfagia pasca-COVID yang signifikan.

Di antara pasien COVID-19 yang dirawat di ICU:

Tanda dan Gejala Disfagia Pasca COVID-19

Gejala Akut (Minggu Pertama-Kedua Setelah Ekstubasi)

Gejala Long COVID (Berminggu-Bulan)

Penilaian Disfagia — Tes Sendiri di Rumah

Perawat dan keluarga dapat melakukan penilaian awal menggunakan EAT-10 Self-Screening Tool:

EAT-10 Scoring

Skor setiap pernyataan 0-4 (tidak ada masalah sampai masalah berat):

  1. Saya memiliki kesulitan menelan makanan padat
  2. Saya memiliki kesulitan menelan minuman
  3. Ketika saya menelan, makanan tertinggal di tenggorokan saya
  4. Saya menelan melalui hidung saya
  5. Ketika saya menelan, saya batuk
  6. Nutrisi mulut saya tidak adekuat saat saya menelan makanan padat
  7. Nutrisi mulut saya tidak adekuat ketika saya menelan minuman
  8. Ketika saya menelan, konsistensi makanan membuat saya kesulitan
  9. Keamanan oral saya saat menelan adalah perhatian
  10. Sebagai hasil dari masalah menelan saya, saya mengalami kecemasan, depresi, atau frustrasi

Skor ≥3: Disfagia probable — konsultasikan dengan dokter Skor <3: Kemungkinan tidak ada disfagia klinis

Pemeriksaan Medis yang Diperlukan

Jika pasien memiliki gejala disfagia, dokter mungkin akan memesan:

VFSS (Videofluoroscopic Swallowing Study)

FEES (Fiberoptic Endoscopic Evaluation of Swallowing)

GUSS (Gugging Swallowing Screen)

MASA (Mann Assessment of Swallowing Ability)

Strategi Pemulihan — Fase Akut (Minggu 1-2 Pasca-Ekstubasi)

1. Modifikasi Konsistensi Makanan (IDDSI Level)

Tekstur makanan harus disesuaikan dengan kemampuan menelan. Gunakan standar IDDSI (International Dysphagia Diet Standardisation Initiative):

Level 0: Cairan Biasa

Level 1-2: Cairan Kental (Sedikit-Sedang)

Level 3: Makanan Lembut/Cairanisasi

Level 4: Makanan Lunak Halus (Pureed)

Level 5-6: Makanan Cincang Lembut

Contoh Hidangan Indonesia per Level:

Level Contoh Hidangan
3 Bubur ayam halus tanpa kulit, sup bening kental, tahu kuah halus
4 Pure telur rebus, pure daging ayam, pure tahu sutra
5 Nasi cincang ayam cincang dengan kuah, daging suwir lembut
6 Nasi biasa dengan lauk lembut, ikan rebus potongan kecil

2. Strategi Postural — Posisi Makan yang Aman

Posisi 90 Derajat Tegak

Chin Tuck (Kepala Menunduk)

Rotasi Kepala

3. Latihan Rehabilitasi Menelan

Latihan harus dimulai sesegera mungkin setelah pasien stabil secara hemodinamik (tekanan darah stabil, saturasi oksigen >90%, kesadaran jelas).

Latihan 1: Mendelsohn Maneuver

Cara:

  1. Menelan saliva
  2. Saat menelan, letakkan jari di bawah dagu
  3. Rasakan gerakan laring (jakun) ke atas
  4. Tahan laring di posisi atas selama 3-5 detik
  5. Lepaskan dan rileks

Frekuensi: 3 set × 5 repetisi, 3× per hari Durasi latihan: 10 menit Bukti: PMID 22668678 menunjukkan Mendelsohn meningkatkan UES (upper esophageal sphincter) pressure 25-30%

Latihan 2: Effortful Swallow (Menelan Kuat)

Cara:

  1. Telan dengan tenaga maksimal (seolah-olah menelan dengan sangat keras)
  2. Tahan kekuatan selama 2-3 detik
  3. Rileks
  4. Ulangi

Frekuensi: 3 set × 5 repetisi, 3× per hari Kombinasi: PMID 29200636 menunjukkan Mendelsohn + Effortful Swallow lebih baik daripada salah satu saja

Latihan 3: Shaker Exercise (Latihan Kepala)

Cara:

  1. Berbaring telentang di tempat tidur
  2. Angkat kepala sedikit ke atas (jangan bantal)
  3. Angkat kepala sejauh mungkin sambil melihat jari kaki
  4. Tahan 1 detik
  5. Turunkan kepala
  6. Istirahat 1 menit
  7. Ulangi (total 30 kali dalam 6 menit)

Frekuensi: 1× per hari, setiap hari Durasi: 6 minggu Bukti: PMC2895999 (RCT)—meningkatkan kekuatan UES 30%

Latihan 4: EMST (Expiratory Muscle Strength Training)

Alat: Device EMST50 (alat taruhan napas) Cara:

  1. Letakkan mouthpiece
  2. Hembuskan napas dengan keras melawan resistensi
  3. Lakukan latihan selama 5-6 menit
  4. Target: tekanan >60 cmH₂O

Frekuensi: 1× per hari, 5 hari per minggu Durasi: 4 minggu Bukti: PMID 26803525 (RCT meta-analysis)—meningkatkan kekuatan ekspirasi 35%, mengurangi aspirasi

Latihan 5: Gargling (Berkumur dengan Kuat)

Cara:

  1. Ambil air hangat (tidak panas)
  2. Masukkan ke mulut
  3. Berkumur dengan keras (suara kuat), 10-15 detik
  4. Kembalikan air ke gelas (jangan telan jika ada kesulitan)
  5. Ulangi 5-10 kali

Frekuensi: 3× per hari Manfaat: Melatih kontraksi faring, membersihkan sisa makanan, mencegah infeksi

Latihan 6: Sentuhan Lidah (Tongue Resistance)

Cara:

  1. Letakkan lollipop atau permen keras di langit-langit mulut
  2. Dorong dengan lidah sekuat mungkin
  3. Tahan 5 detik
  4. Rileks
  5. Ulangi

Frekuensi: 3 set × 5 repetisi, 2-3× per hari Manfaat: Memperkuat otot lidah untuk emparan bolus

4. Pencegahan Infeksi (Perawatan Mulut)

Studi Yoneyama 2002 menunjukkan perawatan mulut profesional mengurangi pneumonia aspirasi 40% dan mortalitas 67%.

Protokol Perawatan Mulut:

  1. Sikat gigi: 2× sehari (pagi dan malam)
    • Gunakan sikat gigi lembut
    • Fokus pada garis gusi dan permukaan dalam
  2. Berkumur antiseptik: Setelah setiap makan
    • Gunakan air garam hangat (½ sendok teh garam dalam 1 cangkir air)
    • Atau chlorhexidine 0,12% (2× sehari)
  3. Pembersihan lidah: 1× sehari
    • Gunakan sikat lidah atau kasa
    • Bersihkan dari belakang ke depan
  4. Perawatan mulut untuk pasien dengan NGT (selang makanan):
    • Sikat gigi 2× sehari
    • Berkumur dengan air atau antiseptik 4× per hari
    • Bersihkan lidah 2× sehari
    • Perubahan posisi kepala setiap 2 jam

Pemulihan Fase Kronis — Long COVID (Minggu 3+)

Prinsip Umum

Strategi untuk Kelelahan Abnormal

Pasien Long COVID sering mengalami kelelahan yang tidak proporsional dengan aktivitas. Makan adalah pekerjaan yang kelelahan!

Solusi:

Telerehabilitas untuk Pasien Indonesia

Indonesia telah mengembangkan Panduan Praktik Telerehabilitas untuk Long COVID, yang memungkinkan:

Akses:

Manajemen Nutrisi

Masalah utama: asupan kalori tidak mencukupi karena kesulitan menelan + kelelahan

Solusi:

Waktu Pemulihan yang Diharapkan

Tidak ada garis waktu yang pasti. Variabilitas tinggi:

Faktor prognostik baik:

Faktor prognostik buruk:

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Kesalahan Masalah Solusi
Memberi makanan terlalu cepat (tergopoh) Aspirasi Beri makan perlahan, satu sendok setiap 3-5 detik
Memberikan minuman tanpa pengental Cairan masuk paru-paru Gunakan Level 1-3 thickener
Berbaring atau setengah tidur saat makan Aspirasi gravitasi Posisi 90° tegak selama + 30 menit setelah makan
Mengabaikan batuk setelah menelan Aspirasi diam Jika ada batuk, makanan mungkin masuk paru-paru — tunda makan
Melewatkan perawatan mulut Pneumonia aspirasi Sikat gigi + berkumur 3× per hari minimum
Memberikan makanan keras/kering Tersedak, aspirasi Tambahkan kuah, gunakan pengental, ubah tekstur
Tidak mencatat asupan makanan Malnutrisi terjadi tanpa disadari Catat konsumsi harian, tinjau mingguan
Menghentikan latihan terlalu cepat Plateauing pemulihan Lanjutkan latihan 3-6 bulan meskipun perbaikan lambat

Kapan Harus Kembali ke Dokter?

Segera kembali ke rumah sakit jika:

Sumber Daya Indonesia

Rumah Sakit dengan Unit Rehabilitasi Medis

Asosiasi Profesional

Produk Pengental Lokal

Perangkat Testing IDDSI

Kesimpulan

Disfagia pasca COVID-19 dan Long COVID adalah komplikasi serius yang memerlukan manajemen terstruktur. Pemulihan memerlukan kombinasi latihan bertujuan, modifikasi tekstur makanan, strategi postural, dan perawatan mulut yang cermat. Walaupun tidak ada jaminan pemulihan lengkap, terutama pada Long COVID, sebagian besar pasien dapat mencapai kemampuan menelan yang cukup untuk nutrisi oral dalam beberapa bulan dengan intervensi yang tepat.

Penting untuk bekerja sama dengan dokter, speech-language pathologist, dan keluarga untuk memastikan pemulihan yang aman dan berkelanjutan.

Kutipan dan Sumber

Artikel ini merangkum standar publik yang tersedia dan panduan klinis internasional. Untuk praktek klinis, lihat dokumentasi resmi terbaru dari PERDOSSI, RSUP/RSU setempat, dan provider healthcare profesional. Halaman ini adalah informasi edukatif saja; bukan nasihat medis.


Terakhir diperbarui: 2026-04-24 · Lisensi: CC BY 4.0 · Dirawat oleh SeniorDeli (Carewells) — sebuah perusahaan sosial Hong Kong yang memproduksi makanan perawatan yang sesuai dengan standar IDDSI untuk orang-orang yang mengalami disfagia. Halaman ini adalah edukasional saja; lihat Tentang untuk mitra klinis kami dan misi sosial. Untuk pertanyaan produk atau procurement: [email protected].