Dysphagia Knowledge Hub — 吞嚥困難知識庫
Latihan Rehabilitasi Menelan — 6 Teknik Berbasis Bukti untuk Pasien Disfagia di Indonesia
TL;DR: Enam latihan menelan — Manuver Mendelsohn, Latihan Shaker, Manuver Masako, CTAR, Menelan Effortful, dan EMST — telah terbukti secara klinis meningkatkan fungsi menelan pada pasien disfagia. Latihan ini bekerja dengan memperkuat otot-otot menelan, meningkatkan pembukaan sfingter esofagus atas, dan memperbaiki koordinasi faring. Di Indonesia, latihan ini dapat dilakukan dengan bimbingan terapis wicara dari IKATWI atau secara mandiri setelah mendapat instruksi langsung dari klinisi.
Mengapa Latihan Menelan Penting bagi Pasien Disfagia?
Disfagia (kesulitan menelan) di Indonesia merupakan masalah yang sering tidak terdiagnosis. Dari sekitar 642.943 kasus stroke baru setiap tahunnya, sekitar 40–45% menyebabkan disfagia.1 Disfagia juga terjadi pada pasien Parkinson (35–82%), kanker kepala-leher pasca radioterapi (hingga 80%), demensia lanjut, dan sindrom disfagia sarkopenik pada lansia.
Tanpa rehabilitasi aktif, otot-otot menelan yang melemah cenderung semakin memburuk. Menelan adalah proses neuromuskular yang melibatkan lebih dari 30 otot dan 6 saraf kranial — dan seperti otot tubuh lainnya, otot menelan merespons latihan bertarget.
Tujuan latihan rehabilitasi menelan:
- Meningkatkan kekuatan dan koordinasi otot suprahioid (yang mengangkat laring)
- Memperbesar pembukaan sfingter esofagus atas (UES) agar bolus makanan dapat lewat
- Memperkuat dinding faring posterior untuk mendorong bolus
- Meningkatkan kekuatan otot ekspirasi untuk proteksi jalan napas
- Mengurangi risiko aspirasi dan residu faring
Penting: Latihan-latihan ini berbeda dari kompensasi postur (seperti chin tuck atau rotasi kepala). Kompensasi mengubah mekanika menelan secara sementara; latihan rehabilitasi bertujuan mengubah fisiologi menelan secara permanen melalui neuroplastisitas dan hipertrofi otot.
6 Latihan Menelan Berbasis Bukti
1. Manuver Mendelsohn (Mendelsohn Maneuver)
Mekanisme: Pasien secara sadar menahan posisi laring di titik tertinggi saat menelan selama 2–3 detik, alih-alih membiarkan laring turun secara otomatis. Ini memperpanjang durasi pembukaan UES dan meningkatkan koordinasi gerakan hioid-laring.
Cara melakukan:
- Letakkan ujung jari pada jakun (laring/Adam’s apple).
- Telan air liur, rasakan laring naik ke atas.
- Saat laring di titik tertinggi, tahan di posisi itu selama 2–3 detik dengan menegangkan otot tenggorokan (seperti menahan tegukan).
- Lepaskan secara perlahan.
- Istirahat dan ulangi.
Dosis yang umum digunakan:
- 10 pengulangan per sesi × 2–3 sesi per hari
- Durasi program: 3–6 minggu
Bukti klinis:
- Penelitian post-stroke (PMID 22668678) menunjukkan Manuver Mendelsohn secara signifikan meningkatkan durasi gerakan hioid dan durasi pembukaan UES.2
- Kombinasi Manuver Mendelsohn + Menelan Effortful (PMID 29200636) mengurangi aspirasi secara bermakna pada pasien disfagia pascastroke dibandingkan kontrol.3
- Efek fisiologis: meningkatkan tekanan kontraksil lantai mulut dan tekanan faring.4
Kontraindikasi: Kelelahan otot yang parah, spastisitas berat, atau kondisi yang mengganggu kontrol volunter laring.
2. Latihan Shaker (Shaker Exercise / Head Lift Exercise)
Mekanisme: Latihan isometrik dan isokinetik untuk memperkuat otot suprahioid (geniohioid, milohioid, digastrik). Otot suprahioid yang lebih kuat mengangkat laring lebih tinggi dan membuka UES lebih lebar, mengurangi residu faring dan aspirasi pasca-menelan.
Cara melakukan:
- Bagian isometrik: Berbaring terlentang tanpa bantal. Angkat kepala hingga bisa melihat jari-jari kaki, tanpa mengangkat bahu. Tahan 1 menit. Istirahat 1 menit. Ulangi 3 kali.
- Bagian isokinetik: Dari posisi yang sama, angkat kepala 30 kali berturut-turut (naik-turun).
Dosis:
- 1 set (3 isometrik + 30 isokinetik) × 3 kali sehari
- Durasi program: 6 minggu
Bukti klinis:
- RCT acak (PMC2895999) pada 19 pasien orofaring disfagia menunjukkan kelompok Shaker mengalami aspirasi lebih sedikit pasca-terapi dibandingkan kelompok terapi tradisional.5
- Studi videofluoroskopi menunjukkan peningkatan pembukaan UES, penurunan residu faring, dan eliminasi aspirasi pasca-menelan setelah program 6 minggu.6
Perhatian: Latihan ini cukup berat secara fisik. Pasien dengan masalah leher (spondilosis servikalis, operasi tulang belakang leher, nyeri leher berat) harus berkonsultasi dengan dokter sebelum memulai. Terdapat alternatif yang lebih ringan beban: CTAR (lihat di bawah).
3. Manuver Masako (Masako Maneuver / Tongue-Hold Maneuver)
Mekanisme: Menelan sementara lidah bagian depan ditahan di antara gigi depan memaksa dinding faring posterior berkontraksi lebih kuat untuk mengkompensasi penurunan gerakan lidah ke belakang. Ini secara selektif melatih konstriktor faring superior dan meningkatkan tekanan faring posterior.
Cara melakukan:
- Julurkan sedikit ujung lidah keluar dari mulut.
- Gigit ringan lidah dengan gigi depan untuk menahannya.
- Telan air liur sambil tetap menahan lidah.
- Lepaskan lidah, istirahat, dan ulangi.
Dosis:
- 10 pengulangan × 2 sesi per hari
- Program: 4–6 minggu
Bukti klinis:
- Studi videofluoroskopi pada individu sehat menunjukkan Manuver Masako meningkatkan bulging dinding faring posterior selama menelan, mendukung mekanisme pelatihan konstriktor faring.7
- Studi kombinasi Manuver Masako + NMES (PMC4968508) menunjukkan perbaikan fungsi menelan yang signifikan pada pasien disfagia pascastroke.8
PERINGATAN PENTING:
- Manuver Masako TIDAK boleh dilakukan dengan makanan atau cairan karena mengubah posisi dan fungsi otot faring secara fundamental dan dapat menyebabkan aspirasi.
- Latihan ini hanya dilakukan dengan air liur.
- Kontraindikasi pada pasien dengan gerakan hioid yang sangat menurun atau motilitas faring yang buruk berat — konsultasi terapis wicara wajib sebelum memulai.
4. Latihan Tekuk Dagu Melawan Tahanan — CTAR (Chin Tuck Against Resistance)
Mekanisme: Pasien menekan dagu ke bawah melawan tahanan bola atau papan tahan, mengaktifkan otot suprahioid secara isometrik tanpa perlu posisi berbaring. CTAR melatih kelompok otot yang sama dengan Latihan Shaker (suprahioid) namun dengan beban fisik yang jauh lebih ringan sehingga lebih mudah dipatuhi (compliance lebih tinggi).
Cara melakukan:
- Duduk tegak di kursi.
- Tempatkan bola karet/tenis berukuran sedang (atau papan CTAR jika tersedia) di antara dagu dan dada bagian atas.
- Tekan dagu ke arah dada, menekan bola dengan kuat. Tahan 10 detik.
- Lepaskan dan istirahat.
- Ulangi.
Dosis:
- 10 pengulangan × 2–3 sesi per hari
- Program: 6–8 minggu
Bukti klinis:
- Tinjauan sistematis (PMID 33973284) menyimpulkan CTAR adalah latihan terapeutik efektif untuk meningkatkan fungsi menelan pada pasien disfagia, dengan aktivasi selektif otot suprahioid dan beban lebih ringan dibandingkan Shaker.9
- Meta-analisis pada disfagia pascastroke (PMC9868925) menunjukkan peningkatan signifikan pada elevasi laring, penutupan epiglotis, dan klirens faring setelah latihan CTAR.10
- Karena lebih mudah dilakukan dalam posisi duduk, CTAR lebih sesuai untuk pasien lansia di Indonesia yang kesulitan berbaring di lantai untuk Latihan Shaker.
Keuntungan khusus konteks Indonesia: Bola tenis bekas (tersedia di mana saja) dapat digunakan sebagai alat CTAR sederhana tanpa biaya tambahan, menjadikan latihan ini sangat accessible untuk pasien rawat jalan maupun di rumah.
5. Menelan Effortful (Effortful Swallow / Menelan dengan Tenaga)
Mekanisme: Pasien menelan dengan usaha dan tekanan maksimum yang disadari, meningkatkan tekanan lidah ke langit-langit keras, tekanan faring, dan kontraksi keseluruhan otot-otot menelan. Berbeda dari menelan normal yang otomatis, menelan effortful melibatkan rekrutmen volunter otot-otot tambahan.
Cara melakukan:
- Ambil sedikit cairan kental atau air liur.
- Telan sekuat mungkin — bayangkan mendorong bolus melalui tenggorokan dengan seluruh kekuatan otot mulut dan tenggorokan.
- Fokuskan tekanan pada lidah mendorong ke langit-langit, dinding faring menekan ke dalam, dan laring bergerak naik setinggi mungkin.
- Istirahat dan ulangi.
Dosis:
- 10 pengulangan × 2–3 sesi per hari
- Dapat dikombinasikan dengan Manuver Mendelsohn untuk efek sinergistik
Bukti klinis:
- Effortful swallow menghasilkan kontraksi lantai mulut yang lebih besar dan tekanan faring yang lebih tinggi dibandingkan menelan normal.4
- Kombinasi Menelan Effortful + Manuver Mendelsohn (PMID 29200636) mengurangi aspirasi secara signifikan pada pasien stroke.3
- Menelan effortful meningkatkan tekanan lidah terhadap langit-langit keras, bermanfaat untuk pasien dengan kelemahan lidah (PMID 23576155).11
Catatan klinis: Menelan effortful adalah teknik yang paling mudah diajarkan dan tidak memerlukan peralatan apapun, sehingga sangat sesuai sebagai latihan mandiri (home exercise) di Indonesia di mana akses terapis wicara terbatas.
6. Latihan Kekuatan Otot Ekspirasi — EMST (Expiratory Muscle Strength Training)
Mekanisme: EMST menggunakan alat dengan katup tahan tekanan (pressure-threshold device) yang memaksa pasien mengeluarkan napas dengan kekuatan melebihi tekanan ambang yang ditentukan. Memperkuat otot ekspirasi (diafragma, otot interkostal, dan otot suprahioid) yang berperan penting dalam proteksi jalan napas dan batuk efektif selama menelan.
Cara melakukan (dengan alat EMST):
- Atur katup EMST pada 75% dari Tekanan Ekspirasi Maksimum (PEmax) pasien.
- Tutup bibir rapat di sekitar alat.
- Hembuskan napas sekuat mungkin melewati katup hingga katup terbuka.
- Setiap sesi: 5 blok × 5 hembusan = 25 hembusan total.
- 5 sesi per minggu selama 5 minggu.
Bukti klinis:
- RCT Troche et al. (2010, PMID 21098406) — studi acak terkontrol pada pasien Parkinson: EMST meningkatkan skor PAS (Penetration-Aspiration Scale), mengurangi penetrasi ke laring, dan meningkatkan fungsi batuk secara signifikan.12 Ini merupakan bukti Kelas I untuk EMST pada penyakit Parkinson.
- RCT pada pasien stroke akut (PMID 26803525) menunjukkan program EMST 4 minggu secara signifikan meningkatkan fungsi menelan pada disfagia orofaring pascastroke dibandingkan kontrol.13
- Tinjauan sistematis (PMID 31999193) mengonfirmasi EMST meningkatkan beberapa parameter videofluoroskopi menelan.14
Ketersediaan alat di Indonesia: Alat EMST (EMST150 atau serupa) saat ini belum tersedia luas di pasaran Indonesia. Beberapa rumah sakit besar seperti RSCM Jakarta dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta memiliki alat ini untuk penggunaan klinis. Untuk pasien mandiri, dokter SpRM atau terapis wicara dapat meresepkan alat ini melalui jalur impor atau menyesuaikan protokol dengan teknik pernapasan alternatif.
Cara Memilih Latihan yang Tepat
Tidak semua pasien cocok untuk semua latihan. Pemilihan harus berdasarkan diagnosis fisiologis menelan (idealnya dari videofluoroskopi/VFSS atau endoskopi/FEES) yang mengidentifikasi kelemahan spesifik:
| Masalah Fisiologis | Latihan yang Dianjurkan |
|---|---|
| Gerakan hioid dan elevasi laring berkurang | Shaker, CTAR, Mendelsohn |
| Pembukaan UES terbatas / residu faring tinggi | Shaker, CTAR, Mendelsohn |
| Kontraksi faring posterior lemah | Masako, Effortful Swallow |
| Tekanan lidah ke langit-langit berkurang | Effortful Swallow, latihan kekuatan lidah |
| Batuk lemah, proteksi jalan napas buruk | EMST |
| Kelemahan umum (sarkopenik) | Kombinasi Shaker/CTAR + EMST + nutrisi protein |
| Keterbatasan fisik (tidak bisa berbaring) | CTAR, Mendelsohn, Effortful Swallow, EMST |
Prinsip Latihan yang Efektif
1. Prinsip SAID (Specific Adaptation to Imposed Demands) Otot menelan beradaptasi secara spesifik terhadap jenis beban yang diberikan. Latihan isometrik (tahan) mengembangkan kekuatan statis; latihan isokinetik (bergerak) mengembangkan daya tahan dan koordinasi. Program yang baik mencakup keduanya.
2. Overload Progresif Latihan harus cukup menantang untuk memicu adaptasi — terlalu mudah tidak memberikan manfaat. EMST menggunakan prinsip ini secara eksplisit (75% PEmax), sementara CTAR dan Shaker dapat ditingkatkan durasinya secara bertahap.
3. Konsistensi dan Kepatuhan (Adherence) Efek latihan bersifat kumulatif dan memerlukan waktu 4–8 minggu untuk terlihat. Penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan latihan adalah prediktor terkuat keberhasilan. Di Indonesia, ini berarti memilih latihan yang:
- Dapat dilakukan tanpa peralatan khusus (Effortful Swallow, Masako, CTAR dengan bola tenis)
- Dapat dilakukan dalam posisi yang nyaman bagi pasien
- Memiliki protokol yang jelas dan mudah dipahami pengasuh
4. Supervisi Awal, Kemudian Mandiri Semua latihan ini harus diajarkan oleh terapis wicara bersertifikat (IKATWI) minimal pada sesi pertama. Setelah teknik dikuasai, pasien dapat melanjutkan di rumah dengan pemantauan berkala.
Kesalahan Umum yang Harus Dihindari
| Kesalahan | Mengapa Berbahaya | Koreksi |
|---|---|---|
| Melakukan Manuver Masako dengan makanan/cairan | Dapat menyebabkan aspirasi | Hanya gunakan air liur untuk latihan Masako |
| Langsung melakukan Latihan Shaker pada pasien dengan nyeri leher | Risiko cedera servikalis | Konsultasi dokter dulu; pertimbangkan CTAR sebagai alternatif |
| Menggunakan intensitas terlalu rendah | Tidak ada stimulus adaptasi otot | EMST: tetap di 75% PEmax; CTAR: tekanan harus terasa lelah |
| Berhenti latihan setelah gejala membaik | Kemampuan menelan dapat menurun kembali | Lanjutkan program penuh 6–8 minggu sesuai rekomendasi |
| Melakukan semua 6 latihan sekaligus tanpa panduan | Kelelahan, kebingungan protokol, risiko error teknik | Mulai dari 1–2 latihan yang paling sesuai dengan panduan terapis wicara |
| Berlatih tanpa posisi tubuh yang benar | Mengurangi efektivitas dan risiko aspirasi | Duduk tegak ≥90° untuk semua latihan kecuali Shaker |
| Menyamakan “latihan menelan” dengan “kompensasi postur” | Kesalahan kategori — kompensasi bukan latihan | Pahami perbedaan: kompensasi = strategi saat makan; latihan = sesi rehabilitasi terpisah |
Latihan Menelan dalam Sistem Layanan Kesehatan Indonesia
Akses terapis wicara
Indonesia memiliki kekurangan terapis wicara yang signifikan — rasio diperkirakan kurang dari 1 terapis wicara per 100.000 penduduk di sebagian besar provinsi. Konsentrasi terbesar ada di Jawa dan Bali, sementara Sulawesi dan Kalimantan memiliki cakupan sangat terbatas.
IKATWI (Ikatan Terapis Wicara Indonesia) adalah organisasi profesi resmi terapis wicara di Indonesia. Direktori anggota dapat diakses melalui situs resmi IKATWI untuk menemukan terapis wicara bersertifikat di wilayah terdekat.
Pembiayaan melalui BPJS Kesehatan
Layanan terapi wicara untuk disfagia ditanggung oleh BPJS Kesehatan jika:
- Dirujuk oleh dokter spesialis (SpRM — Rehabilitasi Medik, atau SpS — Saraf)
- Dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan (FKRTL) yang memiliki unit rehabilitasi medik
- Pasien memenuhi indikasi medis yang terdokumentasi
Beberapa sesi pelatihan latihan mandiri juga dapat dimasukkan dalam rencana terapi, sehingga pasien mendapat panduan dari terapis yang dibayar BPJS sebelum melanjutkan latihan di rumah.
Rumah Sakit dengan Program Rehabilitasi Menelan
| Rumah Sakit | Kota | Layanan |
|---|---|---|
| RSCM (RS Cipto Mangunkusumo) | Jakarta | Terapi wicara, FEES, VFSS |
| RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou | Manado | Rehabilitasi medik |
| RSUP Dr. Hasan Sadikin | Bandung | Terapi wicara, rehabilitasi medik |
| RSUP Dr. Sardjito | Yogyakarta | Terapi wicara, rehabilitasi medik |
| RSUP Dr. Soetomo | Surabaya | Terapi wicara, FEES |
| RS Fatmawati | Jakarta | Rehabilitasi medik |
| RS PON (Pusat Otak Nasional) | Jakarta | Terapi wicara khusus gangguan neurologis |
Kapan Latihan Menelan Tidak Cukup?
Latihan menelan bukan pengganti evaluasi klinis dan memiliki keterbatasan:
- Disfagia berat dengan aspirasi masif: Pasien yang secara konsisten mengaspirasi >10% bolus pada semua konsistensi makanan mungkin memerlukan nutrisi enteral (NGT/PEG) sementara, disertai latihan non-oral, sebelum kembali ke makan oral.
- Disfagia esofageal: Latihan menelan yang dijelaskan di sini ditujukan untuk disfagia orofaring. Jika penyebab utama ada di esofagus (akalasia, striktur, refleks), diperlukan intervensi berbeda (dilatasi endoskopi, Botox, dll.).
- Kondisi neurodegeneratif progresif: Pada ALS atau demensia stadium akhir, manfaat latihan bersifat terbatas dan bukan untuk membalikkan progresi penyakit.
- Tanpa diagnosis fisiologis: Memulai latihan tanpa mengetahui “apa yang rusak” secara spesifik (dari FEES atau VFSS) berisiko memberikan latihan yang kurang tepat sasaran.
Ringkasan Protokol Cepat
| Latihan | Target Otot | Posisi | Dosis | Alat |
|---|---|---|---|---|
| Mendelsohn | Suprahioid, UES | Duduk/berdiri | 10×, 2–3×/hari, 6 minggu | Tidak ada |
| Shaker | Suprahioid | Berbaring | 3 isometrik (1 mnt) + 30 isokinetik, 3×/hari, 6 minggu | Tidak ada |
| CTAR | Suprahioid | Duduk | 10× tahan 10 detik, 2–3×/hari, 6–8 minggu | Bola tenis/bola karet |
| Masako | Konstriktor faring | Duduk/berdiri | 10×, 2×/hari, 4–6 minggu | Tidak ada (air liur saja) |
| Effortful Swallow | Semua otot menelan | Duduk | 10×, 2–3×/hari | Tidak ada |
| EMST | Otot ekspirasi + suprahioid | Duduk | 5×5 hembusan, 5×/minggu, 5 minggu | Alat EMST (pressure-threshold device) |
Catatan dan Sumber
Artikel ini merangkum informasi dari literatur klinis yang tersedia untuk publik. Untuk praktik klinis, rujuk ke dokumentasi resmi terkini dan konsultasikan dengan terapis wicara bersertifikat. Halaman ini bukan merupakan nasihat medis.
Terakhir diperbarui: 2026-04-23 · Lisensi: CC BY 4.0 · Dipelihara oleh SeniorDeli (Carewells) — sebuah social enterprise Hong Kong yang memproduksi makanan perawatan sesuai standar IDDSI untuk penderita disfagia. Halaman ini bersifat edukatif; lihat Tentang Kami untuk mitra klinis dan misi sosial kami.
-
Kementerian Kesehatan RI. Riskesdas 2018. Prevalensi stroke 10,9 per 1.000 penduduk; 642.943 kasus stroke baru per tahun. PMC9149342 (angka kematian Indonesia tertinggi di SE Asia). ↩
-
Robbins J, et al. Mendelsohn maneuver effects on swallowing duration post-stroke. Dysphagia. 2012. PMID 22668678. ↩
-
Kim JH, et al. Effect of the combination of Mendelsohn maneuver and effortful swallowing on aspiration in patients with dysphagia after stroke. J Phys Ther Sci. 2017;29(10):1806–1808. PMID 29200636. PMC5702826. ↩ ↩2
-
Huckabee ML, et al. Biomechanical quantification of Mendelsohn maneuver and effortful swallowing on pharyngoesophageal function. J Speech Lang Hear Res. 2017. PMID 28608778. ↩ ↩2
-
Easterling C, et al. A Randomized Study Comparing the Shaker Exercise with Traditional Therapy: A Preliminary Study. Dysphagia. 2010. PMC2895999. ↩
-
Shaker R, et al. Augmentation of deglutitive upper esophageal sphincter opening in the elderly by exercise. Am J Physiol Gastrointest Liver Physiol. 1997. ↩
-
Fujiu M, Logemann JA. Effect of tongue-hold maneuver on posterior pharyngeal wall movement during deglutition. Am J Speech Lang Pathol. 1996. ↩
-
Ge L, et al. Effect of the Masako maneuver and neuromuscular electrical stimulation on the improvement of swallowing function in patients with dysphagia caused by stroke. Int J Clin Exp Med. 2016. PMC4968508. ↩
-
Park JS, et al. Chin tuck against resistance exercise for dysphagia rehabilitation: A systematic review. Complement Ther Clin Pract. 2021. PMID 33973284. ↩
-
Gao J, et al. Effects of chin tuck against resistance exercise on post-stroke dysphagia rehabilitation: A systematic review and meta-analysis. Front Neurol. 2023. PMC9868925. ↩
-
Doeltgen SH, et al. Effect of effortful swallow and Mendelsohn maneuver on tongue pressure against the hard palate. Dysphagia. 2013. PMID 23576155. ↩
-
Troche MS, et al. Aspiration and swallowing in Parkinson disease and rehabilitation with EMST: A randomized trial. Neurology. 2010;75(21):1912–1919. PMID 21098406. ↩
-
Park JS, Oh DH, Chang MY. Effects of expiratory muscle strength training on oropharyngeal dysphagia in subacute stroke patients: a randomised controlled trial. J Oral Rehabil. 2016;43(5):364–372. PMID 26803525. ↩
-
Hegland KW, et al. Effects of Expiratory Muscle Strength Training on Videofluoroscopic Measures of Swallowing: A Systematic Review. Am J Speech Lang Pathol. 2020. PMID 31999193. ↩