Dysphagia Knowledge Hub — 吞嚥困難知識庫

Cedera Otak Traumatik (TBI) dan Disfagia — Panduan Klinis untuk Pasien dan Keluarga di Indonesia

Ringkasan: Disfagia atau gangguan menelan sering terjadi setelah cedera otak traumatik (TBI), terutama pada cedera berat. Risikonya bukan hanya otot menelan yang lemah, tetapi juga kebingungan, agitasi, impulsivitas, dan kebiasaan memasukkan terlalu banyak makanan ke mulut. Sebagian pasien mengalami aspirasi tanpa batuk, sehingga pemeriksaan di samping tempat tidur saja tidak cukup untuk menyatakan aman. Banyak pasien membaik dalam 3–6 bulan pertama, tetapi tingkat makanan perlu dievaluasi ulang sesuai kognisi dan hasil pemeriksaan menelan [1–4].

Mengapa cedera otak traumatik menyebabkan disfagia?

Menelan dengan aman memerlukan kerja sama mulut, lidah, faring, laring, otak, dan kewaspadaan. Seseorang harus mengenali makanan, mengendalikan jumlah suapan, membentuk bolus, melindungi jalan napas, dan menelan pada waktu yang tepat. TBI dapat mengganggu beberapa tahap sekaligus [1,2].

Berbeda dari stroke yang biasanya mengenai satu wilayah pembuluh darah, TBI dapat menimbulkan cedera fokal maupun menyebar: memar otak, cedera akson difus, cedera batang otak, atau gangguan saraf kranial. Intubasi lama, trakeostomi, sedasi, dan kelemahan setelah perawatan intensif dapat menambah kompleksitas [1,2,14].

Empat kelompok masalah sering saling bertumpang tindih:

Dalam studi Kim dan kolega yang membandingkan TBI berat dengan stroke, banyak kelainan pada videofluoroscopic swallowing study (VFSS) tampak serupa. Pada kelompok TBI, penetrasi atau aspirasi ditemukan pada 73,2%, penurunan elevasi laring pada 68,3%, dan inversi epiglotis yang berkurang pada 61%. Namun, pasien TBI umumnya lebih muda dan memiliki masalah kognitif yang mengubah kebutuhan rehabilitasi; rencana penanganan stroke tidak boleh disalin begitu saja [1].

Seberapa sering disfagia terjadi setelah TBI?

Angka yang dilaporkan sangat bervariasi karena tingkat keparahan, waktu pemeriksaan, definisi disfagia, dan metode penilaian berbeda antarstudi.

Kelompok pasien Angka yang dilaporkan Sumber
Dewasa dengan TBI dalam rehabilitasi rawat inap, semua tingkat keparahan 25–93% antarstudi Tinjauan Howle dkk., 2014 [2]
Anak dengan TBI, seluruh kunjungan rawat inap 3,8–5,3% Morgan dkk., 2003 [5]
Anak dengan TBI berat 68–76% Morgan 2003; Morgan dkk. 2009 [5,6]
Anak dengan TBI setelah operasi otak, data nasional Taiwan Disfagia berat 12,3% Huang dkk., 2014 [7]
Hematoma subdural Sekitar 13% Won dkk., 2022 [9]

Rentang angka yang lebar tidak dapat digunakan untuk memprediksi satu individu. Pesan yang konsisten adalah bahwa keparahan cedera, keterlibatan batang otak, tingkat kesadaran, dan metode pemeriksaan memengaruhi deteksi. Tidak batuk atau tidak tampak tersedak tidak membuktikan bahwa menelan normal [1–6].

Anak perlu dinilai menurut usia, perkembangan, ukuran suapan, dan makanan yang sesuai; ukuran potongan untuk dewasa tidak boleh langsung diterapkan [5,6]. Pada lansia, perubahan menelan terkait usia, penyakit kronis, atau polifarmasi mungkin sudah ada sebelum cedera dan perlu dibedakan dari akibat TBI [2].

Aspirasi senyap: tidak batuk tidak selalu berarti aman

Aspirasi berarti makanan, minuman, atau saliva masuk melewati pita suara ke jalan napas. Bila terjadi tanpa batuk atau tanda yang jelas, kondisi ini disebut aspirasi senyap. Aspirasi tidak selalu menyebabkan pneumonia, tetapi risikonya meningkat ketika beban bakteri mulut tinggi, volume aspirat besar, atau daya tahan tubuh menurun [2,12].

Mackay dan kolega (1999) menemukan 71% pemeriksaan VFSS pada kelompok pasien TBI yang dirujuk menunjukkan kelainan, termasuk aspirasi yang tidak terdeteksi dalam penilaian di samping tempat tidur. Studi longitudinal satu tahun oleh Terré dan Mearin (2009) menunjukkan bahwa aspirasi berubah seiring waktu; aspirasi yang menetap berkaitan dengan keparahan kognitif awal pada skala Rancho Los Amigos [3,4].

Penurunan dorongan untuk batuk dan respons batuk juga pernah dilaporkan pada orang dengan riwayat TBI dan trakeostomi, bahkan ketika cedera telah lama berlalu. Artinya, sistem peringatan jalan napas mungkin tidak bekerja seperti biasanya [10]. Pada TBI sedang hingga berat, tim klinis perlu mempertimbangkan VFSS atau fiberoptic endoscopic evaluation of swallowing (FEES) sebelum memulai atau mengubah asupan oral [1–4].

Keluarga perlu memberi tahu tim bila muncul suara basah setelah makan, makanan tersisa di pipi, air liur berlebihan, waktu makan sangat lama, penghindaran makanan tertentu, penurunan berat badan, pneumonia berulang, atau kelelahan saat makan. Tidak adanya tanda tersebut tetap tidak menyingkirkan aspirasi senyap [2,3].

Skala Rancho Los Amigos membantu menentukan waktu makan

Rancho Los Amigos Scale (RLAS) menggambarkan pemulihan kognitif setelah TBI. Skala ini bukan tes menelan, tetapi membantu menilai kemampuan bekerja sama dan mengendalikan perilaku selama makan. RLAS harus digunakan bersama penilaian medis dan menelan, bukan sebagai satu-satunya aturan pemberian makan [2,3,11].

Mackay dan kolega mengidentifikasi RLAS sebagai prediktor independen penting untuk waktu mencapai makan oral penuh, lebih kuat daripada temuan CT atau jumlah hari ventilasi dalam analisis mereka. Literatur yang ditinjau juga melaporkan masalah perilaku yang memengaruhi makan pada sekitar 31% pasien TBI berat; sekitar 37% belum kembali ke pola makan tanpa pembatasan pada minggu ke-18. Karena itu, tim harus menilai “mampukah menelan” dan “mampukah makan dengan aman dalam kehidupan nyata” [2,3].

Apa yang dapat ditemukan melalui VFSS dan FEES?

VFSS merekam gambar X-ray bergerak ketika pasien menelan makanan atau minuman yang mengandung kontras. Pemeriksaan ini membantu mengamati fase oral dan faring, waktu mulai menelan, pergerakan bolus, residu, penetrasi, dan aspirasi. Tim juga dapat menguji tekstur atau posisi kompensasi dalam kondisi terkontrol [1,2].

FEES menggunakan endoskop lentur melalui hidung untuk melihat faring sebelum dan sesudah menelan. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan residu, penetrasi, aspirasi, dan fungsi struktur faring tanpa radiasi, serta praktis ketika pasien sulit dipindahkan. Ada fase “white-out” saat menelan sehingga pandangan tidak kontinu seperti VFSS. Kedua metode saling melengkapi; pilihan bergantung pada kondisi pasien serta keahlian dan fasilitas setempat [2].

TBI sering menghasilkan pola campuran oral dan faring: transit makanan dalam mulut memanjang, kontrol bolus buruk, makanan tumpah ke faring sebelum menelan, beberapa kali menelan untuk satu bolus, residu di vallekula atau sinus piriformis, elevasi laring berkurang, penetrasi, atau aspirasi [1,2].

Skrining dan penilaian di samping tempat tidur tetap berguna untuk pemantauan dan perencanaan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan instrumental ketika aspirasi senyap dicurigai. Hasil harus ditafsirkan bersama kewaspadaan, kelelahan, keseimbangan duduk, dan perilaku pada hari pemeriksaan; perubahan kondisi dapat menjadi alasan evaluasi ulang [2–4].

Proses pemulihan dan faktor yang dapat memperlambatnya

Prognosis menelan setelah TBI umumnya lebih baik daripada penyakit neurologis progresif, tetapi kecepatan pemulihan sangat bervariasi. Tinjauan dan studi longitudinal menunjukkan banyak penyintas memperoleh kembali kemampuan menelan fungsional dalam 3–6 bulan, dengan perubahan tercepat selama enam bulan pertama; perbaikan yang lebih lambat masih mungkin terjadi. Dalam kohort TBI berat Terré dan Mearin, tidak ditemukan aspirasi senyap pada tindak lanjut satu tahun. Temuan satu kohort ini bukan jaminan bagi setiap pasien [2,4].

Faktor yang berkaitan dengan pemulihan lambat meliputi skor Glasgow Coma Scale rendah, RLAS rendah, keterlambatan mengikuti perintah, keseimbangan duduk yang buruk, cedera batang otak atau pergeseran garis tengah, hematoma temporal, ventilasi berkepanjangan, trakeostomi, dan usia lanjut. Studi tahun 2026 pada 160 pasien menemukan bahwa pada minggu ke-12, usia lebih tua, keterlambatan mengikuti perintah, dan keseimbangan duduk awal yang buruk berkaitan dengan ketergantungan yang menetap pada selang nasogastrik [2,8].

Ventilasi atau trakeostomi kadang merupakan penanda penyakit yang lebih berat, bukan satu-satunya penyebab langsung. Hal penting bagi keluarga adalah menjadwalkan evaluasi ulang dan tidak menganggap selang makan atau pembatasan tekstur pasti permanen [2].

Prinsip pengelolaan makan dan rehabilitasi

1. Sesuaikan makanan dengan hasil pemeriksaan, bukan nama diagnosis

Klinisi memilih tingkat International Dysphagia Diet Standardisation Initiative (IDDSI) berdasarkan kemampuan aktual. Pada fase awal, pasien mungkin memerlukan Level 5 — cincang halus dan lembap — atau Level 4 — lumat — kemudian naik tingkat ketika fungsi menelan dan kognisi membaik. Kekentalan minuman ditentukan tersendiri; pengental tidak otomatis diberikan kepada semua pasien karena dapat mengurangi asupan cairan dan kualitas hidup bila tidak dibutuhkan [2,13].

Makanan Indonesia dapat disesuaikan, misalnya bubur yang dilumatkan homogen, telur kukus lembut, tahu, labu tumbuk, atau ikan kukus yang dicincang halus dan dicampur saus sesuai tingkat yang direkomendasikan. Kelembutan, kelembapan, ukuran partikel, dan pemisahan cairan harus diuji dengan metode IDDSI; nama “bubur”, “tim”, atau “lumat” saja tidak menentukan tingkatnya. Lihat panduan kerangka IDDSI [13].

2. Atur lingkungan sesuai kemampuan kognitif

Untuk pasien yang bingung atau impulsif, pilih tempat tenang, kurangi televisi dan percakapan, berikan satu instruksi setiap kali, sajikan satu suapan, gunakan sendok kecil, dan tunggu sampai mulut kosong sebelum suapan berikutnya. Jauhkan benda nonpangan dan makanan berisiko dari jangkauan. Pengawasan diperlukan sampai pasien secara konsisten mengikuti aturan keselamatan [2,3].

Menjejalkan makanan, merebut, makan cepat, atau menyimpan makanan di pipi dapat disebabkan gangguan kognitif dan kontrol impuls, bukan sengaja menyulitkan. Mengatur tempo dan akses makanan lebih tepat daripada memarahi pasien [2].

3. Koordinasikan trakeostomi dengan tim respirasi

Trakeostomi dapat mengubah gerakan laring dan sensasi subglotis. Deflasi balon atau uji katup bicara dapat membantu sebagian pasien, tetapi hanya setelah tim menilai jalan napas, oksigenasi, kemampuan batuk, dan kesiapan klinis. Pelepasan kanul trakeostomi tidak berarti fungsi menelan langsung normal [2,10].

4. Hindari kondisi “aman tetapi tidak cukup”

Pasien mungkin diizinkan makan oral tetapi makan terlalu lambat, cepat lelah, atau tidak memperoleh energi dan cairan yang cukup. Pantau jumlah makanan dan minuman, berat badan, serta durasi makan. Tim dapat mempertahankan nutrisi tambahan melalui selang selama masa transisi sampai asupan oral cukup dan stabil [2].

5. Rawat mulut dan lakukan evaluasi ulang

Kebersihan gigi dan mulut mengurangi beban bakteri yang dapat terbawa ke paru ketika aspirasi terjadi. Uji acak Yoneyama dan kolega (2002) pada lansia yang bergantung pada perawatan menunjukkan bahwa perawatan mulut menurunkan kejadian pneumonia. Sikat gigi dan bersihkan mulut sesuai rencana, termasuk ketika pasien belum makan oral [12].

Mengakses layanan di Indonesia

Pasien TBI biasanya memulai perawatan di unit gawat darurat atau perawatan intensif, kemudian melanjutkan pemulihan bersama neurologi, bedah saraf, kedokteran fisik dan rehabilitasi, serta tim multidisiplin sesuai kebutuhan. Keluarga dapat bertanya kepada dokter tentang penilaian menelan oleh terapis wicara atau klinisi yang kompeten, serta ketersediaan VFSS atau FEES. Fasilitas dan tenaga khusus berbeda antarwilayah sehingga perlu dikonfirmasi langsung, bukan dianggap tersedia di setiap rumah sakit [2,14].

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa TBI dapat memengaruhi perhatian, memori kerja, orientasi, fungsi eksekutif, komunikasi, dan kemampuan mengikuti instruksi. Halaman edukasi tersebut juga menyebut disfagia dan risiko aspirasi ketika gangguan kognitif menyertai TBI, serta peran terapi wicara dalam rehabilitasi. Informasi ini mendukung penilaian dini, tetapi tidak menggantikan protokol menelan individual atau pemeriksaan instrumental [14].

Saat pulang, mintalah instruksi tertulis mengenai tingkat IDDSI untuk makanan dan minuman, posisi, tingkat pengawasan, perawatan mulut, nutrisi tambahan, jadwal kontrol, dan tanda untuk kembali berobat. Bila rumah jauh dari rumah sakit rujukan, tanyakan pilihan koordinasi dengan fasilitas yang lebih dekat. Pemeriksaan langsung tetap diperlukan ketika fungsi berubah atau aspirasi dicurigai [2,14].

Sayur bening dengan potongan, bubur berair dengan butiran, atau hidangan yang memisahkan cairan dan padatan menuntut pengendalian dua tekstur sekaligus. “Lunak” tidak otomatis berarti “aman”. Bakso bulat dan kenyal, kacang utuh, sayuran mentah renyah, serta kue kering yang mudah beremah juga dapat sulit dikendalikan atau menimbulkan tersedak; gunakan hanya sesuai tingkat yang direkomendasikan dan hasil pengujian aktual [13].

Bila pasien tersedak berat, sulit bernapas, bibir atau wajah berubah warna, atau kehilangan kesadaran, segera hubungi layanan kegawatdaruratan setempat. Jangan memberi tambahan makanan atau minuman ketika pasien sedang tersedak berat atau memiliki respons yang menurun.

Kesalahan dan jebakan yang sering terjadi

  1. Mengizinkan makan hanya berdasarkan penilaian di tempat tidur: TBI dapat menyebabkan aspirasi senyap; pada cedera sedang hingga berat, VFSS atau FEES perlu dipertimbangkan [1–4].
  2. Memberi makan saat agitasi tanpa kontrol: kemampuan mengunyah atau menelan tidak sama dengan makan yang aman; impulsivitas dan menjejalkan makanan dapat menyebabkan tersedak [2,3].
  3. Menggunakan seluruh rencana stroke tanpa penyesuaian: TBI memerlukan perhatian tambahan pada daya ingat, kesadaran akan gangguan, dan perilaku [1,2].
  4. Menganggap semua masalah berasal dari trakeostomi: selang dapat berkontribusi, tetapi cedera otak tetap penting; dekannulasi tidak membuktikan bahwa menelan sudah normal [2,10].
  5. Berhenti menilai ulang terlalu cepat: tekstur yang sesuai pada minggu ke-4 dapat menjadi terlalu ketat pada minggu ke-16; tinjau kembali ketika pasien pulih [2,4].
  6. Hanya memeriksa keamanan dan melupakan jumlah asupan: pantau berat badan, energi, protein, dan cairan; jangan buru-buru menghentikan nutrisi tambahan ketika asupan oral belum cukup [2].
  7. Menyalahkan pasien yang “tidak kooperatif”: penolakan minuman kental atau instruksi dapat disebabkan berkurangnya kesadaran akan gangguan; utamakan lingkungan terstruktur dan pengawasan, bukan konfrontasi [2,3].

Sitasi dan sumber utama

  1. Kim EJ, dkk. Characteristics of dysphagia in severe traumatic brain injury patients: a comparison with stroke patients. Ann Rehabil Med. PMC4951361
  2. Howle J, Baguley IJ, Hulse L. Management of dysphagia following traumatic brain injury. Curr Phys Med Rehabil Rep. 2014. doi:10.1007/s40141-014-0064-z
  3. Mackay LE, Morgan AS, Bernstein BA. Formal swallowing evaluation and therapy after traumatic brain injury improves dysphagia outcomes. J Head Trauma Rehabil. 1999. PubMed 10338398
  4. Terré R, Mearin F. Evolution of tracheal aspiration in severe traumatic brain injury-related oropharyngeal dysphagia: 1-year longitudinal follow-up. Neurogastroenterol Motil. 2009. PubMed 19019014
  5. Morgan A, dkk. Incidence, characteristics, and predictive factors for dysphagia after pediatric traumatic brain injury. J Head Trauma Rehabil. 2003. PubMed 12802166
  6. Morgan A, dkk. Incidence and clinical presentation of dysarthria and dysphagia in the acute setting following paediatric traumatic brain injury. Child Care Health Dev. 2009. PubMed 19320903
  7. Huang YH, dkk. Incidence of severe dysphagia after brain surgery in pediatric traumatic brain injury: a nationwide population-based study. J Head Trauma Rehabil. 2014. PubMed 24590154
  8. Predictive factors associated with dysphagia in patients with traumatic brain injury. 2026. PubMed 41992565
  9. Won SY, dkk. Neurogenic dysphagia in subdural hematoma. Front Neurol. 2022;12:701378. PMC8826688
  10. Reduced urge to cough and cough response following remote traumatic brain injury with tracheostomy. PMC5059551
  11. Rancho Los Amigos Scale. StatPearls. NCBI Bookshelf NBK448151
  12. Yoneyama T, dkk. Oral care reduces pneumonia in older patients in nursing homes. J Am Geriatr Soc. 2002. PubMed 11943036
  13. International Dysphagia Diet Standardisation Initiative. Framework and testing methods. iddsi.org
  14. Kementerian Kesehatan RI. Mengenali Gangguan Komunikasi Pasca Cedera Otak Traumatik. 2023. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan

Artikel ini memparafrasekan penelitian dan panduan klinis yang tersedia untuk publik. Untuk praktik klinis, rujuk dokumentasi resmi terbaru serta arahan tim dokter, rehabilitasi medik, dan klinisi menelan yang merawat pasien. Halaman ini bukan nasihat medis.


Terakhir diperbarui: 2026-10-24 · Lisensi: CC BY 4.0 · Dikelola oleh SeniorDeli (Carewells) — sebuah perusahaan sosial di Hong Kong yang memproduksi makanan perawatan sesuai IDDSI untuk penyandang disfagia. Halaman ini hanya untuk edukasi; lihat About untuk mitra klinis dan misi sosial kami.