Dysphagia Knowledge Hub — 吞嚥困難知識庫

Kerangka IDDSI — Panduan Lengkap 8 Tingkat Diet Internasional untuk Pasien Disfagia di Indonesia

TL;DR: IDDSI (International Dysphagia Diet Standardisation Initiative) adalah standar global yang membagi makanan dan minuman menjadi 8 tingkat (Level 0–7) berdasarkan tekstur dan kekentalan. Standar ini dirancang untuk menjaga keselamatan pasien disfagia saat makan dan minum, mencegah komplikasi berbahaya seperti pneumonia aspirasi. Indonesia, dengan lebih dari 34 juta lansia dan angka stroke tertinggi di Asia Tenggara, sangat memerlukan penerapan standar ini secara luas.


Apa Itu Disfagia dan Mengapa Penting di Indonesia?

Disfagia adalah kesulitan menelan makanan atau minuman dari mulut ke lambung. Kondisi ini bukan penyakit tersendiri, melainkan gejala dari berbagai kondisi medis — paling sering akibat stroke, demensia, penyakit Parkinson, kanker kepala-leher, atau proses penuaan alami.

Di Indonesia, prevalensi disfagia sangat relevan mengingat:

Biaya perawatan stroke di Indonesia yang ditanggung BPJS Kesehatan mencapai Rp 2,57 triliun pada 2018, naik dari Rp 1,43 triliun pada 2016 — dan disfagia yang tidak tertangani berkontribusi signifikan terhadap komplikasi yang memperpanjang perawatan.

Sayangnya, Indonesia belum menerapkan IDDSI secara nasional. Penelitian dari RSUP Dr. Kariadi Semarang (2022) mengidentifikasi bahwa penerapan modifikasi tekstur diet berdasarkan IDDSI masih dalam tahap eksplorasi di rumah sakit-rumah sakit Indonesia (Repositori RSUP Dr. Kariadi, 2022). Panduan ini bertujuan mengisi celah tersebut dengan referensi berbahasa Indonesia yang komprehensif.


Apa Itu IDDSI?

IDDSI (International Dysphagia Diet Standardisation Initiative) adalah inisiatif internasional yang didirikan pada 2013 dan menerbitkan kerangka standarnya pada 2016–2017. Kerangka IDDSI versi 2.0 (2019) saat ini digunakan di lebih dari 50 negara, termasuk Australia, Amerika Serikat, Inggris, Hong Kong, Taiwan, Jepang, dan Korea.

Tujuan IDDSI adalah:

  1. Menyeragamkan terminologi — menghindari kebingungan antara istilah “lembut”, “pure”, “halus”, atau “cair” yang digunakan berbeda-beda antara rumah sakit, panti jompo, dan keluarga.
  2. Menyediakan metode uji terstandarisasi — siapapun dapat menguji makanan dan minuman dengan peralatan sederhana.
  3. Meningkatkan keselamatan pasien — tekstur yang tepat mengurangi risiko tersedak dan aspirasi (masuknya makanan/cairan ke saluran napas).

Referensi utama: Cichero JAY et al. (2017). Dysphagia, 32:293–314.


8 Tingkat Kerangka IDDSI: Panduan Lengkap

IDDSI membagi makanan dan minuman menjadi 8 tingkat (Level 0–7). Level 0–4 berlaku untuk cairan maupun makanan; Level 5–7 hanya berlaku untuk makanan padat.


Level 0 — Cairan Encer (Thin)

Karakteristik: Mengalir seperti air biasa. Tidak membutuhkan usaha lebih untuk diminum.

Uji IDDSI (Flow Test): Sisa cairan dalam spuit 10 mL setelah 10 detik: <1 mL.

Cocok untuk: Sebagian besar orang dewasa sehat. Pasien tertentu dengan disfagia ringan atau yang sedang dalam pemulihan step-down terapi.

Minuman umum di Indonesia: Air putih, teh tawar, kopi cair, jus buah segar tanpa ampas.

⚠️ Penting: Tidak semua pasien disfagia aman mengonsumsi cairan encer. Pasien dengan aspirasi parah atau kontrol menelan yang sangat buruk mungkin memerlukan Level 1–4. Konsultasikan dengan terapis wicara (speech-language pathologist / SLP) atau ahli gizi klinik.


Level 1 — Sedikit Kental (Slightly Thick)

Karakteristik: Sedikit lebih kental dari air, mengalir lebih lambat. Dapat diminum melalui sedotan dan cangkir.

Uji IDDSI (Flow Test): Sisa dalam spuit 10 mL setelah 10 detik: 1–4 mL.

Cocok untuk: Pasien yang memerlukan sedikit perlambatan aliran cairan untuk kontrol yang lebih baik, misalnya bayi prematur atau pasien dengan refleks menelan yang sedikit terlambat.

Catatan klinis: Level ini jarang digunakan untuk lansia; lebih umum pada indikasi pediatrik seperti refluks gastroesofageal (GERD) pada bayi.


Level 2 — Agak Kental (Mildly Thick)

Karakteristik: Mengalir dari sendok tetapi lebih lambat dari air; dapat diminum dengan sedotan standar (diameter 5,3 mm) namun membutuhkan usaha ringan.

Uji IDDSI (Flow Test): Sisa dalam spuit 10 mL setelah 10 detik: 4–8 mL.

Cocok untuk: Pasien dengan kontrol lidah yang berkurang, memerlukan cairan yang mengalir lebih lambat untuk mencegah aspirasi. Sering digunakan pada pasien stroke awal atau demensia ringan-sedang.

Contoh: Minuman berbahan bubuk pengental (thickener) dicampurkan ke air atau jus.


Level 3 — Kental Sedang / Makanan Cair (Moderately Thick / Liquidised)

Karakteristik: Dapat diminum dari cangkir; butuh usaha sedang untuk minum dengan sedotan lebar (diameter 6,9 mm). Tidak dapat dicetak atau dibentuk. Halus tanpa gumpalan atau serat.

Uji IDDSI:

Cocok untuk: Pasien yang kontrol lidahnya tidak cukup untuk Level 2; mereka yang memerlukan pemrosesan oral minimal.

Contoh makanan Indonesia: Bubur sumsum encer (sangat halus), jus pisang disaring halus, kaldu kental halus.


Level 4 — Sangat Kental / Pure (Extremely Thick / Pureed)

Karakteristik: Dimakan dengan sendok; tidak dapat diminum dari cangkir atau sedotan. Tidak perlu dikunyah. Dapat dicetak/dibentuk, mempertahankan bentuk di piring. Tidak ada gumpalan; tidak boleh lengket.

Uji IDDSI:

Cocok untuk: Pasien dengan kontrol lidah sangat buruk, tidak dapat mengunyah sama sekali, atau dalam fase akut pasca-stroke.

Contoh makanan Indonesia:

⚠️ Uji 4 mm: Untuk pasien anak, makanan Level 4 harus lolos uji — partikel tersisa setelah diblender tidak boleh lebih besar dari 4 mm.


Level 5 — Cincang Halus dan Lembap (Minced and Moist)

Karakteristik: Dapat dimakan dengan sendok atau garpu; tidak perlu dikunyah kuat. Partikel kecil (≤4 mm untuk anak; ≤4 mm juga untuk dewasa dalam beberapa panduan). Makanan harus lembap/basah — tidak boleh kering atau mudah hancur menjadi remah kering.

Uji IDDSI:

Cocok untuk: Pasien yang mampu menggerakkan lidah tetapi mengunyah masih terbatas; pasien dengan gigi palsu tidak pas atau gigi rusak parah.

Contoh makanan Indonesia:


Level 6 — Lunak dan Ukuran Sekali Suap (Soft and Bite-Sized)

Karakteristik: Potongan makanan maksimal 15 mm × 15 mm. Lunak dan lembap; dapat dihancurkan dengan tekanan lidah. Tidak perlu mengunyah sekuat makanan biasa. Tidak boleh ada tulang, kulit keras, biji, atau bagian yang lengket.

Uji IDDSI:

Cocok untuk: Pasien yang dapat mengunyah sedikit tetapi memerlukan potongan kecil dan tekstur lunak; pemulihan pasca-stroke atau operasi mulut/tenggorokan.

Contoh makanan Indonesia:


Level 7EC — Mudah Dikunyah (Easy to Chew)

Karakteristik: Makanan lunak yang dapat digigit dan dikunyah, tetapi lebih mudah dari makanan biasa. Dapat dipotong dengan sisi garpu. Tidak ada tulang keras, remah kering, atau komponen yang perlu usaha mengunyah tinggi.

Cocok untuk: Pasien lansia dengan kemampuan mengunyah yang sedikit berkurang; pasien dengan gigi palsu yang masih berfungsi; pemulihan pascaoperasi mulut ringan.

Contoh makanan Indonesia: Nasi lembek (nasi lebih banyak air), ikan kukus lunak tanpa tulang, tahu goreng lunak, pisang matang.


Level 7 — Makanan Biasa (Regular)

Karakteristik: Tidak ada batasan tekstur. Semua makanan dan minuman yang aman untuk orang sehat.

Cocok untuk: Individu tanpa masalah menelan, atau pasien yang telah berhasil menyelesaikan program rehabilitasi menelan dan dinilai aman oleh klinisi.


Cara Menguji Tekstur Makanan di Rumah

Anda tidak perlu peralatan mahal untuk menguji tekstur makanan. Peralatan dasar yang dibutuhkan:

Peralatan Fungsi Harga Perkiraan
Spuit 10 mL slip-tip (tanpa jarum) IDDSI Flow Test (cairan) Rp 3.000–5.000
Garpu makan biasa Fork Pressure Test & Fork Drip Test Sudah ada di rumah
Penggaris Mengukur ukuran partikel Sudah ada di rumah

IDDSI Flow Test (Uji Aliran Cairan):

  1. Tutup ujung bawah spuit dengan jari Anda.
  2. Isi spuit dengan 10 mL cairan yang akan diuji.
  3. Lepaskan jari dan hitung 10 detik.
  4. Baca sisa cairan dalam spuit.
  5. Cocokkan dengan Level IDDSI (lihat tabel di atas).

Fork Pressure Test (Uji Tekanan Garpu):

  1. Letakkan makanan di atas garpu.
  2. Tekan ibu jari ke atas makanan dengan tekanan sedang (sekitar 150 g — bayangkan menekan tombol remote kontrol).
  3. Jika makanan mudah hancur → Level 5–6.
  4. Jika makanan tidak hancur (perlu tekanan lebih) → Level 7 atau tidak sesuai.

Disfagia di Indonesia: Sistem Kesehatan dan Rujukan

Di Indonesia, penanganan disfagia melibatkan beberapa profesi:

Rumah sakit rujukan untuk evaluasi disfagia lanjutan (FEES / VFSS):

BPJS Kesehatan: Layanan rehabilitasi disfagia di fasilitas kesehatan tingkat lanjut (FKRTL) dapat diklaim melalui BPJS Kesehatan dengan rujukan dari FKTP (puskesmas atau klinik primer). Konsultasikan dengan pihak administrasi rumah sakit mengenai cakupan prosedur FEES atau terapi wicara yang tersedia.


Makanan Indonesia dan Kecocokan IDDSI

Berikut panduan cepat kesesuaian makanan Indonesia dengan tingkat IDDSI:

Makanan Tingkat IDDSI Catatan Penting
Bubur sumsum (encer, halus) Level 3–4 Blender halus, saring bila perlu
Bubur nasi lembek Level 5–6 Tergantung kekentalan dan ukuran partikel
Nasi tim Level 5–6 Harus benar-benar lembap
Nasi biasa Level 7 Tidak sesuai untuk pasien disfagia sedang-berat
Tahu sutra (silken tofu) Level 4–5 Kukus, jangan goreng kering
Tempe Level 6–7EC Perlu uji tekanan garpu
Ikan kukus halus (tanpa tulang) Level 4–5 Pastikan benar-benar bebas tulang
Ayam suwir lembap Level 5–6 Suwir kecil, basahi dengan kuah
Telur dadar Level 6–7EC Tergantung ketebalan dan kelembapan
Telur rebus Level 6 Potong <15 mm
Pisang matang Level 4–5 Hancurkan atau iris sesuai kebutuhan
Papaya matang Level 5–6 Potong kecil, pastikan lembut
Labu kuning rebus Level 4–5 Haluskan sempurna untuk Level 4
Sayur bayam rebus Level 5–6 Potong kecil, pastikan lunak
Kacang-kacangan (keras) Tidak sesuai Risiko tersedak tinggi
Kerupuk / rempeyek Tidak sesuai Remah kering, risiko aspirasi
Daging rendang (kering) Tidak sesuai Terlalu kering, sulit ditelan

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

1. Menganggap “bubur” selalu aman Bubur yang masih berbutir, terlalu encer, atau mengandung gumpalan bisa berbahaya. Selalu uji dengan IDDSI Flow Test atau Fork Drip Test.

2. Tidak memblender sampai benar-benar halus Serat kasar (dari sayuran berserat tinggi) atau biji yang terlewat dapat menyebabkan tersedak pada pasien Level 4–5. Gunakan blender berkualitas baik dan saring bila diperlukan.

3. Memberikan makanan kering atau remah Kerupuk, roti kering, atau remahan makanan sangat berbahaya bagi pasien disfagia. Makanan harus selalu lembap.

4. Menebak tingkat tanpa uji Tampilan saja tidak cukup. Selalu gunakan uji IDDSI untuk memverifikasi tingkat cairan maupun makanan.

5. Tidak memperbarui tingkat seiring pemulihan Pasien dalam pemulihan (misalnya pasca-stroke) sering kali dapat meningkatkan tingkat IDDSI seiring waktu. Evaluasi rutin oleh terapis wicara sangat penting.

6. Mengabaikan aspek gizi Makanan bertekstur modifikasi berisiko rendah kalori dan rendah protein. Konsultasikan dengan ahli gizi klinik untuk memastikan kecukupan nutrisi. Pertimbangkan suplemen nutrisi oral (ONS) bila asupan tidak mencukupi.


Cara Membaca Label Produk Bertekstur Modifikasi

Di pasar Indonesia, produk komersial untuk pasien disfagia (termasuk pengental/thickener) mulai tersedia, terutama di apotek besar dan toko alat kesehatan. Cari label yang menyebutkan:


Pertanyaan Umum (FAQ)

Q: Apakah pasien disfagia harus seumur hidup makan makanan bertekstur modifikasi? A: Tidak selalu. Banyak pasien — terutama pasca-stroke — dapat meningkatkan kemampuan menelan melalui rehabilitasi dan secara bertahap kembali ke makanan biasa. Keputusan ini harus dibuat bersama terapis wicara berdasarkan evaluasi klinis.

Q: Bisakah saya menyiapkan makanan IDDSI sendiri di rumah? A: Ya. Dengan blender yang baik, peralatan uji sederhana (spuit dan garpu), serta panduan seperti ini, banyak keluarga dapat menyiapkan makanan yang aman. Namun tetap konsultasikan dengan profesional kesehatan untuk menentukan tingkat IDDSI yang tepat untuk pasien Anda.

Q: Apakah nasi tim aman untuk semua pasien disfagia? A: Tidak. Nasi tim umumnya masuk Level 5–6, yang memerlukan kemampuan mengunyah dan kontrol lidah tertentu. Pasien dengan disfagia berat (membutuhkan Level 3–4) tidak aman mengonsumsi nasi tim biasa.

Q: Di mana bisa mendapatkan spuit untuk IDDSI Flow Test di Indonesia? A: Spuit 10 mL slip-tip tanpa jarum tersedia di apotek, toko alat kesehatan, atau platform e-commerce (Tokopedia, Shopee) dengan harga sangat terjangkau (Rp 3.000–5.000 per buah). Pastikan memilih spuit slip-tip (tanpa ulir), bukan luer-lock.


Ringkasan: Tabel Cepat 8 Tingkat IDDSI

Level Nama (Indonesia) Nama Inggris Cocok Untuk
0 Cairan Encer Thin Kebanyakan orang; beberapa pasien disfagia ringan
1 Sedikit Kental Slightly Thick Indikasi pediatrik; jarang untuk lansia
2 Agak Kental Mildly Thick Kontrol lidah berkurang, stroke awal
3 Kental Sedang / Cair Moderately Thick Kontrol lidah sangat terbatas
4 Sangat Kental / Pure Extremely Thick / Pureed Tidak bisa mengunyah sama sekali
5 Cincang Halus & Lembap Minced & Moist Mengunyah terbatas
6 Lunak & Sekali Suap Soft & Bite-Sized Mengunyah ringan masih bisa
7EC Mudah Dikunyah Easy to Chew Lansia dengan kemampuan mengunyah sedikit berkurang
7 Makanan Biasa Regular Tanpa batasan

Sumber dan Referensi

Artikel ini memparafrasekan standar IDDSI yang tersedia untuk umum dan data epidemiologi dari sumber pemerintah Indonesia. Untuk penggunaan klinis, selalu merujuk pada dokumentasi resmi terkini dan konsultasikan dengan profesional kesehatan terlatih. Halaman ini bukan merupakan saran medis.


Terakhir diperbarui: 2026-04-22 · Lisensi: CC BY 4.0 · Dipelihara oleh SeniorDeli (Carewells) — perusahaan sosial berbasis di Hong Kong yang memproduksi makanan perawatan sesuai standar IDDSI untuk penderita disfagia. Halaman ini bersifat edukatif; lihat Tentang untuk mitra klinis dan misi sosial kami. Pertanyaan bisnis: [email protected]