Dysphagia Knowledge Hub — 吞嚥困難知識庫

IDDSI Level 5 Makanan Cincang dan Lembap — Panduan Lengkap untuk Pasien Disfagia di Indonesia

Ringkasan Singkat: IDDSI Level 5 — disebut Minced & Moist (Makanan Cincang dan Lembap) — adalah makanan bertekstur lembut dengan potongan kecil maksimal 4 mm (lebar) × 15 mm (panjang) untuk dewasa, berbalut saus kental yang merata, sehingga dapat ditelan dengan gerakan lidah minimal tanpa perlu menggigit. Level ini berada di antara Level 4 (Makanan Lunak Halus/Pureed) dan Level 6 (Lunak dan Sepotong Kecil) — sering kali merupakan langkah pertama rehabilitasi tekstur setelah pasien lulus dari bubur saring. Persiapan yang salah adalah penyebab utama aspirasi dan pneumonia pada pasien disfagia di Indonesia.

Poin kunci:


1. Apa Itu IDDSI Level 5 Makanan Cincang dan Lembap?

Kerangka IDDSI 2.0 (2019) mendefinisikan Level 5 — Minced & Moist — sebagai makanan padat lunak yang memiliki ciri-ciri berikut [1]:

Apa yang membedakan Level 5 dari Level 4?

Aspek Level 4 (Pureed) Level 5 (Minced & Moist)
Gumpalan Tidak ada — benar-benar halus Ada — potongan kecil ≤4mm terlihat
Pengunyahan Tidak diperlukan sama sekali Minimal — tekanan lidah cukup
Kontrol lidah Gangguan berat Gangguan sedang
Aliran Tidak mengalir; seperti puree Kohesif; dapat dibentuk di piring
Penggunaan garpu Bisa, makanan tidak melewati celah Bisa, partikel melewati celah garpu

Mengapa Level 5 penting secara klinis? Di Indonesia, banyak pengasuh dan tenaga kesehatan yang terlatih dengan sistem NDD (National Dysphagia Diet) lama, yang membagi makanan hanya dalam tiga kelas kasar (cair, lunak, biasa). IDDSI Level 5 mengisi celah penting yang tidak ada dalam NDD: transisi dari bubur saring ke makanan keluarga bertekstur lunak. Pasien yang terlalu cepat diberi Level 6 atau 7 berisiko tersedak; pasien yang terlalu lama di Level 4 mengalami penurunan kualitas hidup dan risiko malnutrisi [2].

Penelitian di RSUP Dr. Kariadi Semarang (Medica Hospitalia, 2019) menemukan bahwa modifikasi tekstur diet belum diterapkan secara konsisten di rumah sakit Indonesia [3]. Keluarga dan pengasuh perlu memahami standar IDDSI secara mandiri untuk melanjutkan perawatan yang benar di rumah.


2. Tiga Uji Tekstur IDDSI Level 5 — Panduan Langkah demi Langkah

Makanan Level 5 harus lulus ketiga uji berikut, dilakukan pada suhu saji yang sebenarnya [1]. Alat yang dibutuhkan hanya garpu makan dan sendok standar.

2a. Fork Pressure Test (Uji Tekanan Garpu)

Tujuan: Memastikan partikel cukup lunak untuk dipisahkan dengan tekanan lidah — bukan dengan mengunyah.

Cara melakukan:

  1. Ambil satu potongan makanan (ukuran kira-kira ibu jari).
  2. Letakkan di atas garpu dan tekan perlahan dengan ibu jari dari atas, hingga kuku sedikit menekan — jangan sampai kuku memutih (blanch).
  3. Amati hasilnya:
    • Lulus (Level 5): Partikel terpisah dengan mudah dan melewati celah gigi garpu; mudah dihaluskan dengan tekanan ringan.
    • Gagal — terlalu keras (Level 6+): Makanan tidak mudah terpisah; butuh tekanan kuat sampai kuku memutih.
    • Gagal — terlalu lunak (Level 4): Makanan menjadi puree sepenuhnya sebelum ada partikel yang bisa diidentifikasi.

Catatan klinis: Tekanan kuku tidak boleh memutih. Ini membedakan Level 5 dari Level 6 (yang membutuhkan kuku memutih untuk membuktikan kelunakannya).

2b. Fork Drip Test (Uji Tetes Garpu)

Tujuan: Memastikan makanan kohesif — membentuk gundukan di atas garpu, tidak mengalir seperti cairan.

Cara melakukan:

  1. Ambil sekitar 10 ml makanan dan letakkan di atas garpu.
  2. Pegang garpu secara horizontal setinggi mata selama 5 detik.
  3. Amati hasilnya:
    • Lulus (Level 5): Makanan membentuk tumpukan atau gundukan di atas garpu; tidak mudah atau sepenuhnya mengalir atau jatuh melalui gigi garpu.
    • Gagal — terlalu encer (Level 4 atau lebih rendah): Makanan mengalir bebas melalui gigi garpu.
    • Gagal — terlalu padat (Level 6+): Makanan duduk kaku di atas garpu sebagai satu bongkahan yang tidak bergerak.

2c. Spoon Tilt Test (Uji Miringkan Sendok)

Tujuan: Memastikan kohesi dan kelembapan — makanan mudah meluncur dari sendok tetapi meninggalkan sedikit sisa.

Cara melakukan:

  1. Ambil satu sendok penuh makanan.
  2. Miringkan sendok pelan-pelan atau kibas lembut.
  3. Amati hasilnya:
    • Lulus (Level 5): Makanan meluncur/tumpah jika dimiringkan atau dikibas lembut; sangat sedikit makanan tersisa di sendok; tidak lengket.
    • Gagal — terlalu kental/lengket: Makanan tidak mau meluncur bahkan setelah dimiringkan penuh.
    • Gagal — terpisah (berbahaya): Cairan mengalir lebih dulu sebelum bagian padatan — ini tanda kritis; cairan encer terpisah meningkatkan risiko aspirasi secara drastis.

Uji Jari (opsional, konfirmasi tambahan): Ambil sedikit makanan di antara ibu jari dan telunjuk. Makanan Level 5 harus:


3. Siapa yang Membutuhkan IDDSI Level 5?

Level 5 diresepkan oleh dokter atau ahli patologi wicara-bahasa (speech-language pathologist/SLP) untuk pasien dengan kondisi berikut [4][5]:

Kondisi Mengapa Level 5 Tepat
Stroke fase pemulihan awal Kontrol lidah mulai membaik; siap meningkat dari Level 4
Parkinson stadium sedang Gerakan lidah terganggu namun masih ada; kelelahan mengunyah nyata
Demensia ringan–sedang Masih ada refleks menelan yang cukup; makanan perlu mudah dikontrol
Gigi yang tidak lengkap atau gigi palsu yang tidak pas Tidak dapat menggigit makanan keras; tidak dapat mengunyah efektif
Nyeri saat mengunyah (sariawan, pasca operasi mulut) Menghindari tekanan mekanis pada gigi/gusi
Kepayahan kronis (misalnya PPOK, gagal jantung) Mengunyah membuang energi yang diperlukan untuk bernapas/pemulihan
Kanker kepala-leher pasca radiasi/operasi Gangguan otot menelan; volume bolus perlu dikontrol

Siapa yang tidak boleh di Level 5? Pasien yang belum bisa mempertahankan bolus (gumpalan makanan) di mulut, atau yang mengalami aspirasi bahkan pada Level 5, harus diturunkan ke Level 4 atau lebih rendah. Keputusan ini hanya boleh dibuat oleh SLP atau dokter setelah penilaian klinis.


4. Tabel Makanan Indonesia: Cocok, Perlu Modifikasi, dan Tidak Cocok

Makanan yang Sesuai Level 5 (dengan persiapan yang benar)

Bahan Makanan Cara Persiapan Level 5 Sumber Gizi
Ayam Cincang halus (≤4mm); sajikan dalam kuah kental atau saus santan Protein, vitamin B3
Ikan kakap / gurame Haluskan dengan garpu dalam kaldu kental; buang duri Protein, omega-3
Daging sapi Cincang halus; masak lama dalam kuah sampai benar-benar lunak Protein, zat besi
Telur orak-arik lunak Masak telur dengan api kecil; tambahkan sedikit minyak agar tidak kering Protein, kolin
Tahu sutra cincang Potong kecil ≤4mm atau haluskan sebagian; sajikan dengan kuah kental Protein nabati, kalsium
Tempe cincang lunak Kukus hingga lunak, cincang halus, sajikan dalam saus kecap encer kental Protein nabati, serat
Bubur nasi dengan ampas Bubur dengan tekstur lebih kental dan memiliki butiran lunak kecil Karbohidrat, energi
Kentang tumbuk sedang Tumbuk dengan sedikit susu/kaldu; tidak sampai benar-benar halus (ada tekstur) Karbohidrat, kalium
Labu kuning kukus Potong kecil ≤4mm atau haluskan sebagian; sajikan hangat Beta-karoten, serat
Wortel rebus lembut Rebus sampai sangat lunak; cincang halus ≤4mm Vitamin A, serat
Bayam rebus cincang Rebus sampai layu; cincang halus, sajikan dalam kuah Zat besi, folat
Kacang merah lunak Rebus hingga sangat lunak; sajikan dalam kuah kental — jangan dalam cairan encer Protein, serat, zat besi
Singkong/ubi jalar kukus Kukus hingga sangat lunak; haluskan sebagian dengan sendok Karbohidrat, kalium
Pisang matang Potong kecil atau haluskan sebagian; tidak perlu saus tambahan Kalium, energi

Makanan yang Memerlukan Modifikasi Khusus

Makanan Masalah Solusi
Nasi putih biasa Butiran nasi terpisah-pisah; risiko aspirasi granul Masak menjadi nasi tim sangat lembek dengan kuah kental; atau lewati ke bubur kental
Tempe goreng Terlalu keras dan kering Kukus dulu hingga lunak, lalu cincang — jangan digoreng untuk pasien Level 5
Sayur bening Cairan encer terpisah dari sayur Kentalkan kuah dengan sagu/maizena; atau sajikan sayur terpisah dari kuah
Telur rebus Bagian putih telur bisa kenyal Potong sangat halus ≤4mm; atau ganti dengan telur orak-arik/kukus yang lebih lunak
Tahu keras Terlalu padat Gunakan tahu sutra; atau kukus tahu keras sampai lunak sebelum dipotong
Semur daging Potongan sering terlalu besar dan keras di pinggirnya Cincang ulang ≤4mm setelah dimasak; kuah semur sendiri biasanya sudah cukup kental

Makanan yang Tidak Cocok untuk Level 5

Makanan Alasan
Nasi goreng Butiran nasi kering + tekstur campuran tidak konsisten
Roti tawar / mie kering Mengembang dengan air liur → risiko tersedak
Kacang-kacangan utuh (kacang tanah, almond) Keras; ukuran bola bulat → risiko sumbatan saluran napas
Bakso bulat utuh Permukaan licin + bulat → risiko menyumbat kerongkongan
Buah berserat (nanas, mangga berserat) Serat tidak bisa dipotong sampai ≤4mm dengan mudah
Kulit ayam Licin dan kenyal; tidak bisa dihaluskan dengan lidah
Cabai dan biji-bijian Potongan kasar dan tidak homogen
Kerupuk / emping Berubah tekstur saat terkena air liur → bisa membentuk massa lengket

5. Cara Menyiapkan Makanan Level 5 di Dapur Rumah

Teknik Dasar

Cincang vs. blender: Untuk Level 5, gunakan pisau atau food chopper — bukan blender. Blender akan membuat makanan terlalu halus (Level 4). Jika makanan terlalu halus setelah dicincang, tambahkan sedikit saus kental dan aduk — jangan blender ulang.

Pengujian suhu: Selalu uji tekstur pada suhu saji. Beberapa makanan (seperti labu dan kentang) berubah tekstur saat dingin — yang semula lulus Level 5 bisa menjadi terlalu lengket atau terlalu keras setelah dingin.

Saus wajib: Setiap protein (ayam, ikan, tempe, tahu) wajib disajikan dalam saus kental — kuah opor, saus kecap kental, kaldu kental, atau santan kental. Saus encer yang terpisah dari makanan padat adalah kegagalan Level 5 dan berbahaya.

Contoh Menu Harian

Waktu Menu Level 5
Sarapan Bubur ayam cincang halus (ayam cincang ≤4mm + kuah kaldu kental + sedikit kecap asin)
Selingan pagi Pisang matang dihaluskan sebagian + yogurt plain kental
Makan siang Nasi tim sangat lembek + ikan kukus saus kental + wortel rebus cincang
Selingan sore Kentang kukus tumbuk sedang + puree labu kuning
Makan malam Bubur kental + telur orak-arik lunak + bayam rebus cincang dalam kuah

Tips Persiapan Massal (Batch Cooking)

  1. Masak protein dalam porsi besar (ayam rebus/kukus seminggu sekali), lalu cincang dan simpan dalam wadah kedap udara di kulkas (3 hari) atau freezer (1 bulan).
  2. Saus tersendiri — buat kuah kental dalam porsi besar; simpan di kulkas. Campur baru saat hendak disajikan agar tekstur optimal.
  3. Label wadah dengan tanggal pembuatan dan level IDDSI untuk menghindari kesalahan pemberian makanan di keluarga.

6. Risiko Gizi dan Cara Mengatasinya

Pasien yang lama di Level 5 rentan terhadap masalah gizi berikut [6][7]:

Malnutrisi Energi-Protein

Makanan yang dimasak terlalu lama dan dicincang halus kehilangan sebagian kandungan gizi dan densitas energi. Tambahkan:

Dehidrasi

Makanan Level 5 mengandung kadar air yang lebih rendah dari makanan cair. Pastikan pasien:

Risiko Infeksi Paru (Pneumonia Aspirasi)

Aspirasi pada Level 5 sering terjadi karena:

Studi meta-analisis Frontiers in Neurology (2024) menunjukkan prevalensi disfagia global pascastroke sebesar 40,1%, dengan pneumonia aspirasi sebagai komplikasi mortalitas utama [8]. Di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, protokol disfagia pascastroke menekankan modifikasi tekstur makanan sebagai intervensi pencegahan utama [4].


7. Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

Kesalahan Dampak Solusi
Memotong makanan “kira-kira” tanpa mengukur Potongan >4mm tidak lulus Level 5 Gunakan celah garpu sebagai panduan — jika potongan tidak melewati celah garpu, terlalu besar
Menyajikan sayur bening tanpa mengentalkan kuah Cairan encer terpisah dari sayur → risiko aspirasi Kentalkan kuah dengan maizena/sagu sebelum disajikan
Memberikan Level 5 kepada pasien yang perlu Level 4 Potongan kecil tetap dapat menyebabkan aspirasi jika kontrol lidah belum cukup baik Konsultasikan dengan SLP sebelum menaikan level
Menyimpan makanan tanpa saus, baru menambahkan saat saji Makanan mengering dan menjadi terlalu keras Simpan makanan sudah tercampur saus; tambahkan sedikit air/kaldu saat memanaskan kembali
Menggunakan blender untuk semua bahan Semua makanan menjadi Level 4 Gunakan food chopper atau pisau; blender hanya untuk puree Level 4
Tidak menguji suhu sebelum menyajikan Tekstur berubah saat dingin Uji garpu dan sendok tepat sebelum disajikan kepada pasien
Menambahkan saus encer (contoh: air kaldu cair) Cairan encer terpisah → berbahaya Kentalkan saus terlebih dahulu sebelum dicampurkan

8. Transisi Level: Kapan Naik dan Kapan Turun

Kapan naik dari Level 4 ke Level 5?

Pasien siap mencoba Level 5 ketika:

Kapan turun dari Level 5 ke Level 4?

Turunkan segera jika:

Kapan naik dari Level 5 ke Level 6?

Pasien siap mencoba Level 6 ketika:

Penting: Kenaikan level selalu harus atas rekomendasi SLP atau dokter — bukan berdasarkan keputusan keluarga sendiri. Pemaksaan naik level terlalu cepat adalah penyebab rawat inap berulang akibat pneumonia aspirasi di Indonesia.


9. Akses dan Sumber Daya di Indonesia

Tenaga Profesional yang Relevan

Di Indonesia, disfagia ditangani oleh tim multidisiplin, termasuk:

Rumah Sakit Rujukan Disfagia Utama

Rumah Sakit Kota Kontak
RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta (021) 500-135
RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta (0274) 587-333
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung (022) 203-4953
RSUP Dr. Soetomo Surabaya (031) 501-3015
RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar (0411) 584-677
RS Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta (021) 2930-0600

Organisasi Profesional

Produk Pengental Tersedia di Indonesia

Untuk menyesuaikan kekentalan saus pada makanan Level 5, tersedia di apotek dan toko makanan kesehatan:


Kutipan dan Sumber

  1. Cichero JAY et al. “Development of International Terminology and Definitions for Texture-Modified Foods and Thickened Fluids Used in Dysphagia Management: The IDDSI Framework.” Dysphagia 32(2):293–314, 2017. https://doi.org/10.1007/s00455-016-9758-y
  2. Baijens LWJ et al. “European Society for Swallowing Disorders – European Union Geriatric Medicine Society white paper: oropharyngeal dysphagia as a geriatric syndrome.” Clin Interv Aging 11:1403–1428, 2016. PMID: 27713626.
  3. Medica Hospitalia. “Penerapan Modifikasi Tekstur Makanan pada Pasien Disfagia.” RSUP Dr. Kariadi Semarang, 2019.
  4. RSUP Dr. Sardjito. “Tata Laksana Gangguan Menelan (Disfagia) pada Pasien Stroke.” 2022. https://sardjito.co.id/2022/07/25/tata-laksana-gangguan-menelan-disfagia-pada-pasien-stroke/
  5. Crary MA et al. “Dysphagia Management in ALS and Other Neurological Disorders.” Seminars in Speech and Language 27(4):283–296, 2006.
  6. Namasivayam AM, Steele CM. “Malnutrition and Dysphagia in Long-Term Care: A Systematic Review and Meta-Analysis.” J Nutr Gerontol Geriatr 34(1):1–21, 2015. PMID: 25803818.
  7. Shimizu A et al. “Prevalence and associated factors of sarcopenic dysphagia: A systematic review and meta-analysis.” Dysphagia 36:167–181, 2021. PMID: 32462451.
  8. Boaden E et al. “Dysphagia after stroke: A meta-analysis of prevalence and associated complications.” Frontiers in Neurology 2024. https://doi.org/10.3389/fneur.2024.1346220
  9. IDDSI Framework (2019 v2.0). https://www.iddsi.org/framework
  10. T/SATA 084-2025 — 適老易食食品(適老照護食). Shenzhen Analytical Testing Association, 2025.

Artikel ini merangkum standar IDDSI 2.0 (2019) yang tersedia secara publik. Untuk praktik klinis, selalu rujuk pada dokumentasi resmi IDDSI terbaru. Halaman ini bukan saran medis.


Terakhir diperbarui: 2026-04-23 · Lisensi: CC BY 4.0 · Dipelihara oleh SeniorDeli (Carewells) — sebuah social enterprise Hong Kong yang memproduksi makanan perawatan berbasis IDDSI untuk penderita disfagia. Halaman ini bersifat edukatif; lihat Tentang Kami untuk mitra klinis dan misi sosial kami.